Arti Sebuah Kata ” MAHASISWA”

Mahasiswa adalah Agen Perubahan

Mahasiswa merupakan golongan masyarakat yang mendapatkan pendidikan tertinggi, dan punya perspektif luas untuk bergerak diseluruh aspek kehidupan dan merupakan generasi yang bersinggungan langsung dengan kehidupan akademis dan politik, oleh sebab itu adanya miniature state dikalangan mahasiswa merupakan proses pembelajaran politik untuk mahasiswa walaupun pada akhirnya dalam tataran politik praktis, gerakan-gerakan mahasiswa idealnya harus tetap bersifat independent dan tidak terjebak pada sikap pragmatis dan oportunis. Tapi pada kenyataannya saat ini banyak gerakan mahasiswa yang sudah ditumpangi elit-elit politik sehingga mereka tidak bisa bergerak bebas untuk menjalankan fungsinya sebagai alat control politik karena terikat perjanjian dengan elit politik tersebut. Hal inipun disinyalir penyebabab melempemnya gerakan mahasiswa pasca reformasi Selain itu telah terjadi fragmentasi di intern gerakan mahasiswa itu sendiri yang disebabkan perbedaan ideology dan cara pandang terhadap permasalahan tertentu, dan munculnya mahasiswa opurtunis di tubuh gerakan mahasiswa dimanfaatkan kepentingan individu maupun kelompok dalam rangka mempertahankan eksistensi mereka. Bahkan ada stigma yang berkembang di masyrakat bahwa untuk membiyai kebutuhan logistic organisasi agar program kerja organisasi tetap terlaksana akhirnya gerakan mahasiswa pun terjebak pada UUD “Ujung-Ujungya Duit” dan tumbuhlah budaya ABS “Asal Bapak Senang”, hal ini merupakan momok bagi pergerakan mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai golongan masyarakat yang idealis dan berpihak pada masyarakat, untuk mengembalikan kembali image itu kita perlu belajar pada sejarah sebagaimana pepatah para ilmuan Prancis , L’ Histoire Se Repete (sejarah akan selalu berulang) untuk itu maka sepatutnyalah saat ini gerakan mahasiswa mulai merekontruksi soliditas gerakan dan menjalin komunikasi lintas gerakan dengan menghilangkan kecurigaan dan merasa benar sendiri (high egoisme), dan mulailah untuk kembali menata idealisme dan mengavaluasi format gerakan mahasiswa selama ini. Hal-hal tersebut harus diupayakan dalam rangka mengefektifkan kembali mahasiswa sebagai preasure penguasa.
MAHASISWA yang memiliki predikat educated midle class dari dulu hingga kini akan selalu memiliki fungsi strategis, yaitu sebagai iron stock, agent of change, dan social control. Yang terakhir disebut adalah fungsi mahasiswa secara taktis yang merespons realitas di masyarakat untuk menjaga keseimbangan sosial antara pemerintah sebagai pengelola dan rakyat sebagai yang dikelola. Sebagai social control (kontrol sosial) mahasiswa mendapat beban moral menjadi penengah antara kaum elite dan alit, menjadi mediator publik. Fungsi taktis mahasiswa sebagai kontrol sosial dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu peran mahasiswa sebagai “alarm” dan peran mahasiswa sebagai “palu”. Sebagai alarm mahasiswa berfungsi sebagai pemberi sinyal adanya kesenjangan antara harapan publik dan penguasa sebagai pemberi hak publik. Secara otomatis, sinyal itu menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan koreksi diri. Dengan kata lain, mahasiswa melakukan gerakan untuk mengingatkan pemerintah melalui aksi-aksi mahasiswa, baik aksi agitasi maupun aksi turun ke jalan. Peran ini menjadi alternatif pertama gerakan mahasiswa sebagai kontrol sosial yang memiliki dampak tak langsung dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Peran kedua mahasiswa sebagai palu adalah alternatif berikutnya yang ditempuh ketika peran sebagai alarm tidak membuahkan solusi pasti. Pada tahap ini gerakan mahasiswa langsung berdampak pada perubahan sosial. Mahasiswa tidak lagi bersifat pasif, akan tetapi aktif dalam melakukan perubahan sosial. Peran mahasiswa dalam melakukan kontrol sosial mutlak diperlukan untuk mencegah adanya akumulasi kekuasaan di tubuh pemerintahan yang sedang berjalan. Kebekuan gerakan mahasiswa selama 32 tahun pada masa pemerintahan Soeharto menjadi jalan bebas hambatan bagi pemerintah saat itu dalam mengabadikan kekuasaan. Fakta ini membuktikan bahwa mahasiswa sebagai kontrol sosial menjadi garda terdepan dalam menjaga kestabilan sosial. Fungsi taktis yang menopang peran mahasiswa dalam mengawasi pemerintah bukan tanpa masalah. Saat ini mahasiswa mulai kehilangan format gerakan yang tepat dalam menjalankan fungsinya tersebut. Gerakan yang dilakukan mahasiswa harus bisa menjadi problem solver yang memecah kebuntuan polemik pemerintah yang berkuasa. Sudah saatnya mahasiswa kembali merevitalisasi gerakannya dalam mengawasi pemerintah. Melakukan aksi moral intelektual dalam memformat gerakan mahasiswa, menjaga idealisme tanpa melupakan realitas lingkungan, melakukan gerakan yang bersinergi dengan logika perut rakyat serta membangun sense of crisis mahasiswa. Dengan hal-hal tersebut mahasiswa dapat melakukan fungsi taktisnya dalam mengawasi pemerintah, dalam hal ini mahasiswa menjadikan pemerintah tidak sebagai musuh akan tetapi mitra menyejahterakan masyarakat

 

 

PERJUANGAN MAHASISWA ADALAH PERJUANGAN BERSAMA RAKYAT

Sejak menjelang Sidang Umum MPR hingga saat ini media-media massa di dalam negeri maupun di luar negeri tampak bersemangat untuk meliput aksi demonstrasi yang akhir-akhir ini banyak muncul ke permukaan. Keseluruhan aksi-aksi tersebut pada intinya menuntut untuk diadakannya perubahan. Kondisi bangsa saat ini dinilai oleh banyak orang sebagai moment yang tepat untuk menggolkan hal tersebut.

Krisis ekonomi yang dimulai sejak tahun lalu telah memberikan dampak dalam segala lini kehidupan bangsa seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum, kebudayaan. Hal ini tentu saja dengan sendirinya semakin memperlihatkan bahwa sistem yang diterapkan oleh negara kita dalam menjalankan roda kehidupannya sangat rapuh. Sehingga sudah umum dan banyak orang yang saat ini meneriakkan reformasi total. IMF pun meminta Indonesia untuk melakukan reformasi. Dan reformasi memang harus dilakukan. Tapi ke arah mana reformasi itu harus dilakukan?

Perbaikan dalam segala bidang kehidupan bangsa Indonesia harus dijamin oleh kepastian hukum. Sedangkan yang disebut hukum bagi bangsa Indonesia adalah hukum yang berkedaulatan rakyat, bukan hukum yang hanya menguntungkan dan menguatkan penguasa. Hal inilah yang belum dicapai oleh bangsa kita hingga saat ini. Oleh karena itu yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, kedaulatan milik rakyat, kedaulatan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa dan bagaimana kedaulatan rakyat dapat dikembalikan ke tangan pemiliknya?

Mahasiswa sering disebut-sebut sebagai agen perubahan karena mahasiswa memiliki potensi intelektual untuk melakukan perubahan. Mahasiswa memiliki potensi untuk mengembalikan kedaulatan rakyat -kedaulatan mahasiswa karena mahasiswa merupakan bagian dari rakyat itu sendiri- .Tetapi kondisi yang menyedihkan selama 20 tahun melanda dunia kemahasiswaan Indonesia. Lewat pengebirian organisasi kemahasiswaan, mahasiswa dijauhkan dari rakyat, dijauhkan dari lingkungannya sendiri. Mahasiswa dikungkung dalam laboratorium, dalam kelas, dalam studio. Seperti yang pernah digambarkan oleh Ali Syariati bahwa perguruan tinggi seolah-olah berada dalam peti kaca. Dapat terlihat tetapi tidak tersentuh. Hal tersebut real terjadi saat ini. Indikasi yang paling gampang terlihat adalah ketika mahasiswa tidak mampu lagi berkomunikasi dengan rakyat. Bahasa-bahasa yang dikemukakan oleh mahasiswa adalah bahasa-bahasa kaum intelektual yang tidak dimengerti rakyat. Berapa persen rakyat yang mengerti istilah demokrasi, reformasi? Sehingga tidak perlu heran jika dalam Pasar Rakyat II ITB kemarin ada ibu-ibu yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada krisis moneter, karena ia tidak tahu apa itu krisis moneter. Dan ini merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa! Hal ini merupakan cermin bagi mahasiswa bahwa sekarang adalah saatnya untuk kembali ke rakyat!

Dalam kondisi bangsa seperti ini, kesadaran untuk bergerak sudah muncul di mana-mana. Baik mahasiswa maupun rakyat. Semua orang ingin berteriak. Tetapi yang harus mahasiswa lakukan saat ini adalah membangun aliansi mahasiswa-rakyat. Karena aliansi ini adalah aliansi yang paling kuat. Aliansi ini harus dibangun sampai pada saatnya mahasiswa benar-benar melebur bersama rakyat.

Perjuangan masih sangat panjang. Tujuan tidak akan tercapai dengan gerakan-gerakan prematur yang dapat ditebas dengan sekali pukulan. Apa yang dibangun oleh kemahasiswaan ITB saat ini baru merupakan awal dari langkah panjang yang harus ditempuh. Pasar Rakyat, eksposure, musik kerakyatan baru merupakan langkah permulaan. Karena kemahasiswaan ITB ingin mengembalikan kedaulatan rakyat ke tangan pemiliknya, dan untuk itu kemahasiswaan ITB ingin berjuang bersama-sama rakyat. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan, baik fisik, mental, tenaga maupun kesabaran.. Keselamatan rakyat merupakan bagian dari tanggung jawab kita pula. Oleh karena itu kita tidak akan menempuh langkah-langkah konyol yang sia-sia, dan kita harus memiliki gambaran ke depan.(****)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s