kisah pinangan sang bidadari

Posted: Oktober 11, 2011 in Uncategorized

Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
I. ABU ABDULLAH AS SYARQY
( MUSY’IL AL QOHTHONY )
Beliau seorang yang hafal Al Qur’an Al Karim, dan beliau adalah salah satu
mahasiswa di Kuliyah Sar’iyyah di Ahsa’ dan termasuk orang yang mempunyai
ilmu syar’ie.
Akhlaqnya yang mulia sungguh menakjubkan, sifatnya mulia, ketenangan
jiwanya yang mengherankan, dan kewibawaan yang Allah berikan kepadanya.
Jikalau engkau melihatnya maka engkau akan melihat pancaran cahaya ketaatan
keluar dari wajahnya. Beliau termasuk orang yang ikut serta teman-temannya
berjihad di Afgahanistan memerangi Rusia dan Komunis. Beliau berjihad
bersama kakaknya, dan kakaknya telah terbunuh disana sebagai syuhada’.
Setelah terbunuhnya sang kakak, beliau pulang kembali ke orang tuanya di
kota Al Jabil di daerah timur dan beliau melanjutkan kuliah di Universitasnya
sampai ibunya wafat – semoga Allah merahmatinya -.
Dahulu beliau sering merayu ibunya untuk diijinkan berangkat ke Bosnia,
akan tetapi ibunya tidak mengijinkannya. Kemudian beliau meminang seorang
perempuan dari keluarga baik-baik, beliau memberikan tenggang waktu untuk
melaksanakan akan nikah, akan tetapi Allah menolak rencana itu dan menikahkan
beliau dengan Hurun ‘Iin.
Ketika beliau berada pada semester akhir di Universitasnya, beliau sudah
tidak sabar lagi ketinggalan jihad dan beliau mengikuti berita-berita para
mujahidin disana. Lalu beliau mengemasi kopernya bertepatan masuknya bulan
Romadhon yang mubarok pada tahun 1415 H. dan beliau ingin menghabiskan
bulan yang mulia ini di sana – Bosnia -. Kemudian beliau bertemu dengan salah
seorang teman yang menemani beliau ke Ibu Kota Kroasia yaitu Kota Zaghrob.
Ketika beliau menginap di sebuah Hotel selama tiga hari, selama menginap disana
ada kejadian yang luar biasa yang beliau alami, yaitu bertemu perempuan yang
cantik.
Akhirnya beliau memutuskan tinggal di Hotel selama tiga hari bersama
temannya. Ternyata disana ada seorang perempuan yang bekerja di Hotel itu.
Perempuan tersebut mengagumi kepribadiannya, yaitu ketika ia melihat jenggot
beliau yang lebat dan parasnya yang tampan, maka perempuan itu mulai merayu
dan menggodanya. Akan tetapi Allah menjaganya dari perbuatan keji perempuan
tersebut hingga berlalu selama tiga hari. Kemudian perempuan tersebut datang
untuk memamerkan dirinya di ruang tunggu. Perempuan itu berkata kepada lelaki
– saudara – tersebut : “ Jikalau aku menginginkanmu sungguh aku akan
menggodamu seperti aku telah menggoda sepuluh lelaki lain sepertimu “. Akan
tetapi lelaki tersebut pergi dan berlalu begitu saja meninggalkan perempuan itu.
Dan melajulah ia dengan mengendarai pesawat terbang menuju Bandara Seblit.
Sesampainya di Bandara beliau menyewa Bus untuk masuk ke Bosnia, maka
Allah pun memudahkan jalan masuk baginya sampai bumi yang diidamidamkannya
selama ini untuk dimasuki, dan itu bertepatan dengan ketentuan yang
Allah tetapkan pada ajalnya pula ( “ Dan tiada seorangpun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia akan mati “. QS. Luqman : 34). Merupakan
kebahagiaan tersendiri bagi beliau ketika masuk ke Bosnia, hampir-hampir beliau
3
tidak dapat menceritakannya – karena sangat gembira –, apakah benar beliau telah
masuk bumi jihad ? apakah benar bahwa beliau akan memerangi musuh-musuh
Allah Serbia ? apakah benar beliau akan dapat ribath ? dan …. Dan ….., ya !
semua itu benar.
Beliau pergi ke daerah Turofnik dan bergabung dengan para mujahidin di
sana. Tempat mujahidin berada di dalam sebuah rumah yang sederhana yang
terletak di sebuah desa kecil, di desa itu terdapat beberapa Masjid dan desa
tersebut berdekatan dengan Serbia.
Beliau memulai kegiatannya seperti halnya hujan, yaitu beliau mengajar
anak-anak surat Al Fatihah dan sholat. Beliau juga mengajar yang dewasa.
Demikianlah kegiatan beliau jika sedang berada di desa, hingga penduduk desa
mencintai beliau. Bahasa tidak menghalangi beliau – untuk berdakwah – cukup
dengan niat yang jujur mengajar mereka dengan bahasa isyarat. Dan jika beliau
berada di Front maka beliau banyak bergaul dengan orang-orang Bosnia untuk
berdakwah kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada mereka sesuai
kemampuan yang beliau miliki.
Beliau melakukan kegiatan seperti itu terus-menerus sampai akhir bulan
Romadhon yang mubarok, hingga datanglah orang yang memanggil “ Wahai
pasukan Allah majulah “. Hingga datang amaliah di Gunung Falasyij As
Syahiroh, yaitu di puncak Gunung yang amat tinggi dan strategis yang dikuasai
oleh Serbia. Dan berkali-kali mereka menyerang kaum muslimin dengan
menggunakan Mortar dari atas puncak Gunung. Maka para mujahidin pun
mengadakan persiapan untuk menghadapi peperangan yang sangat menentukan
itu.
Para mujahidin menggunakan strategi memasuki daerah Serbia dengan
mengambil jarak tiga kilo meter sebagaimana yang diceritakan oleh orang yang
mengikuti peperangan pada saat itu. Dari sana mujahidin dapat memutuskan
bantuan untuk tentara Serbia dan mujahidin dapat menyerbu pasukan gunung
dengan keseluruhan..
Dua hari sebelum amaliah, Abu Abdullah bercerita pada salah seorang
teman. Beliau berkata kepada temannya : “ Aku bermimpi bahwa aku dapat
membunuh dua orang Serbia lalu meluncurlah dua peluru kepadaku di sini
hingga aku terbunuh “. Maka temanya tersebut memberi kabar gembira
kepadanya bahwa dia akan mendapatkan syahadah secara nyata. Dia
mengucapkan Allahul Musta’an kami bukan orang yang layak mendapatkan
syahadah. Dan dia menyuruhnya untuk merahasiakan mimpinya itu.
Singa-singa Allah bergerak menuju medan tempur dan merayap hingga tiba
waktu fajar. Mereka mendaki Gunung hingga mendekati terbitnya fajar. Dan para
mujahidin sama merasakan keletihan berjalan dan tidak dapat memulai perang.
Maka komandan memerintahkan kepada semua mujahidin berbuka puasa, maka
berbukalah para mujahidin karena takut atas musuh mereka jika mereka tidak
berbuka.
Mulailah peperangan yang dahsyat dan hebat itu bersamaan terbitnya fajar,
dan saudara kita ini pun bertekad bertempur untuk membunuh musuh di medan
perang. Majulah ia bersama dua mujahidin, lalu keluarlah sekelompok tentara
Serbia yang ketakutan dan mereka saling berhadap-hadapan. Maka Abu Abdullah
4
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
menghadapkan senapan mesinnya – LMG – kepada mereka hingga beliau dapat
membunuh dua orang dari mereka, dan meluncurlah dua serangan tepat di leher
beliau dan terbuktilah mimpi beliau. Dan berjatuhanlah dua temannya yang
terluka oleh serangan Serbia, dan para mujahidin lainnya berada di belakang
mereka pada jarak beberapa meter saja, akan tetapi mereka tidak dapat
menyelamatkan orang-orang yang terluka karena tempat mereka dekat dengan
Serbia, maka Serbia pun hendak mengambil mereka untuk dijadikan tawanan, lalu
salah seorang teman yang terluka berdo’a kepada Allah “ Ya Allah ….. Ya Allah
….. Ya Allah ….. beberapa detik kemudian turunlah kabut yang sangat tebal
hingga para mujahidin bisa mendekat kepada teman-teman tersebut dan
menyelamatkan mereka. Dan Serbia pun kabur lari terbirit-birit ketakutan.
Para mujahidin mendapatkan saudara kita Abu Abdullah As Syarqi telah
meninggal dalam keadaan shoum tidak berbuka, dan tampaklah di wajahnya
senyumnya yang menakjubkan, sungguh ini adalah tanda-tanda – kesyahidannya
-. Kemudian ketika teman-temannya membawa turun jasad beliau ke Desa dan
mereka menggalikan lubang kuburnya, maka keluarlah dari tubuhnya aroma
wangi Misk yang disaksikan semua orang yang menghadiri pemakamannya.
Sungguh ! Allah telah mengsihi Abu Abdullah As Syarqi, seorang hafidz (hafal)
Al Qur’an, orang yang bertaqwa, waro’ dan tawadhu’. Semoga Allah
memperbanyak jumlah contoh dari para mujahidin yang sholih pada ummat
Islam.
5
II. ABDUL HADI AT-TUNISY
Beliau termasuk dari para lelaki yang taat… beliau adalah Abdul Hadi At
Tunisy. Allah memberikan kekuatan badan kepadanya, akal yang cerdas, hati yang
bersih. Selalu menampakkan senyum sepanjang hidupnya, dan beliau seorang
pemberani yang tidak dapat digambarkan keberaniannya.
Beliau termasuk orang yang pertama-tama datang ke Afghanistan bersama
teman-teman arab lainnya. Pada saat itu orang-orang arab sedang membuka leberlebar
bantuannya.
Beliau adalah seorang bisnismen dan saudagar di Tunis dan Eropa. Dan
beliau lihai dalam hal ulah-kanuragan (beladiri). Beliau menguasai karate dan
telah menyandang sabuk hitam yang menunjukkan kekekaran tubuh beliau.
Allah memuliakan beliau dengan masuk ke bumi jihad dan berserikat
dengan para ikhwah mujahidin Afghan di dalam jihad. Dan Allah memuliakan
beliau dengan mengikuti banyak amaliyat, hingga Allah berkehendak kepadanya
menjadikan beliau tawanan perang – musuh -.
Orang-orang Rusia menangkap beliau dan menjebloskannya ke dalam
Penjara pusat di Kabul. Penjara inilah yang menampung tawanan mujahidin arab
ketika terjadi aliansi utara. Semoga Allah membebaskan mereka. Amien …..
amien …..
Sebenarnya beliau adalah orang arab yang tertawan paling dulu di
Afghanistan. Beliau selalu di pukuli dan disiksa dengan siksaan yang berat hingga
mereka lelah di dalam menyiksa. Hingga pada akhirnya mereka memaksa beliau
ditayangkan di siaran Televisi Afghan dan – beliau dipaksa – berbicara di depan
manusia bahwasanya beliau datang ke Afghanistan dalam rangka membantu
Amerika untuk menguasai Afghanistan… dan … dan … dan … – dipaksa untuk –
berbicara yang dapat menyakiti pendengaran mujahidin. Maka beliaupun menolak
paksaan itu hingga beliau disiksa, bahkan mereka mengkoyak-koyak tubuh beliau.
Akan tetapi beliau – tetap tegar – bagaikan Gunung yang kokoh, seperti kokohnya
Gunung Torabora yang diguncang dengan Bom tapi ia tetap kokoh tidak terkoyak.
Disana ada seorang ikhwah arab yang ditawan, lalu mereka
mengeluarkannya setelah dipaksa untuk tampil di tayangan Televisi untuk
mengucapkan apa yang mereka kehendaki.
Kabar – tentang kekokohan Abdul Hadi – sampai ke telinga pegawai penjara
hingga menjadi berita utama di penjara. Datanglah salah satu perwira Rusia yang
disebut-sebut sebagai pembesar dan orang yang mulia dan ia berhenti di depan sel
teman kita ini – Abdul Hadi -.
Perwira itu berkata: “Keluarkan orang arab ini kepadaku agar ia mendapat
pelajaran yang tidak dapat ia lupakan, dan akan aku didik – siksa – dia“.
Benar … mereka mengeluarkan singa Abdul Hadi dan berhenti tepat di
depan perwira itu. Perwira itu melihatnya dengan pandangan mengejek lalu
memukulnya dengan pukulan yang kuat. Dia berkata: “Dimana Robmu yang
engkau sembah? Suruh dia turun menolongmu!“ Mendengar ejekan itu
berkobarlah amarah singa Abdul Hadi, beliau marah karana Allah ‘Azza wa Jalla,
lalu beliau mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang telah pudar dan beliau
bergerak dengan gesit mengarah perwira itu dan langsung memukulnya. Hingga
6
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
beliau dan perwira itu sama-sama jatuh pinsan. Begitulah beliau dalam kondisi
lapang dan sempit. Beliau marah karena Allah dan menolong Dien-Nya. Sampai
Allah memudahkan urusannya dan mengeluarkan beliau dari tahanan setelah
berlalu lima tahun ia jalani di dalam penjara Rusia komunis.
Ketika engkau saksikan tubuhnya maka perasaan ini akan menjadi
semangat….. engkau saksikan tulang iga dadanya semuanya remuk bekas
pukulan, kedua tangan dan kakinya patah.
Sungguh siksaan macam apakah yang telah beliau alami !!! dan derita
apakah yang beliau rasakan !!!
Syekh Syyaf membawa beliau ke negeri eropa untuk berobat, hingga Allah
memberikan kesembuhan beliau setelah berobat selama satu tahun penuh.
Kemudian beliau kembali lagi ke Afghanistan, dan beliau mendengar ada amaliyat
besar-besaran di Jalalabad. Lalu beliau menyiapkan diri dan masuk bersama
mujahidin ke medan perang dan terbuktilah kepahlawanan dan pengorbanan
beliau.
Beliau masuk ke dalam bersama dengan salah seorang ikhwah dari Saudi –
saya lupa kunyahnya -, dan beliau menjadi fotografer majalah Bunyanul Marshus.
Orang-orang Afghan melakukan Wideroll – mundur -….. dan orang-orang
Komunis dapat menduduki daerah tersebut dan mengepung kedua ikhwan kita ini,
lalu keduanya dibunuh oleh orang komunis sebagai pahlawan. Hingga keduanya
terbunuh – semoga Allah merahmati keduanya – dan diterima-Nya masuk ke
dalam Jannah-Nya.
Allah telah mmberikan rahmatnya kepada Abdul Hadi At Tunisi dan
menerima amalnya selama lima tahun mendekam di dalam penjara Rusia.
Allah telah melimpahkan rahmatnya kepada seorang arab yang paling
dahulu di penjara di Afghanistan…..
Allah telah melimpahkan rahmatnya kepada semua syuhada’ dan menerima
semua amalan mereka yang telah lalu …..
7
III. ABU BAKAR AT TURKI
Kami ingin meceritakan kisah beliau disini itu setelah kamu mendengar
kabar terbunuhnya beliau –semoga Allah merahmatinya – bersama Abu Ja’far Al
Yamani – semoga Allah menerima keduanya -. Dan bumi pertama yang mereka
berjihad adalah bumi Bosnia…..
Ketika engkau layangkan pandanganmu kepada sosok lelaki ini maka
engkau akan merasa senang dan simpati kepadanya. Jiwanya adalah jiwa tentara.
Aku melihat lelaki ini pertama kalinya pada awal tahun 1414 H. di garis belakang
sedang berkumpul bersama mujahidin di front Syarisya. Di front itulah terbunuh
seorang singa Allah Abu Tsabit Al Mishri – bukan Abu Tsabit Al Muhajir Al
Mishri -. Ketika itu aku berjumpa beliau dan beliau tidak bisa berbahasa arab
sedikitpun ?? akan tetapi aku melihat di wajahnya pancaran semangat untuk
menolong saudara-saudaranya Bosnia. Beliau berada di front itu atas
kepemimpinan Al Gonaim. Beliau belajar disana, tadrib disana dan makan disana.
Beliau mengirimkan makanan ke garis depan kepada mujahidin. Melihat beliau
ketika berada di front itu menimbulkan kesenangan dua hal. Yang pertama bahwa
makanan telah beliau sajikan dan yang kedua dapat melihat wajah beliau yang
memancarkan ketaatan – dan kita tidak mensucikan seseorang atas Allah -.
Berlalulah hari-hari dan mulailah peperangan-peperangan di tahun 1415 H.
beliau menyergap dan berkeliling di depan musuh-musuh Allah Serbia dengan
menampakkan sikap kasar dan pembunuh. Sampai datanglah hari yang
menyedihkan yang menyebarkan kabar tentang pemberhentian peperangan di
Bosnia, dan telah terjadi rundingan sepakat antara pentolan Serbia, Kroasia dan
orang Islam untuk menghentikan perang karena ketetapan DAITON !!!!!?????.
Aku melihat roman mukanya begitu sedih, dan pertanyaan melintas berkalikali
difikirannya apakah yang ia dengar ini benar ? ya … ya …. Apakah jihad
telah selesai ……………..? Demi Allah sungguh seluruh yang dia miliki telah
sirna, bahkan harta dan keluarganya telah hilang. Maka akupun memberikan
hadiah untuk menghibur beliau dan aku beri kabar gembira kepada beliau bahwa
disana masih ada front peperangan, yaitu front peperangan yang ada di Chechnya.
Maka meledaklah kegembiraannya dan kembalilah beliau bisa tersenyum.
Wajahnya tampak cerah lagi tampan….. Allahu Akbar ….. Allahu Akbar ….. –
kata beliau – aku akan pergi ke sana dan bergabung dengan teman-temanku orangorang
Chechnya dalam berjihad. Dan aku cari karomah Allah dengan mendapat
syahadah di jalan-Nya. Akan tetapi beliau terikat dengan sebagian urusan di
Bosnia. Lalu beliau mendahulukan pergi ke Chechnya. Maka beliau keluar lagi
dari Chechnya dan masuk ke Bosnia kedua kalinya.
– Kata beliau – aku tak bisa pulang ke Qitr, dan itu karena kecintan beliau
yang mendalam kepada teman-teman mujahidin. Beliau begitu terkesan dengan
mereka dan senang melihat wajah-wajah mereka dan beliau menceritakan kepada
mereka tentang saudara-saudara mereka di Chechnya.
Ketika beliau melihat aku maka beliaupun gembira lalu memeluk aku
dengan pelukan hangat dan air matanya bercucuran dan beliau berkata kepadaku :
“ Aku bertanya kepadamu demi Allah apakah masih ada jalan untuk masuk ke
Chechnya ? “. Aku katakan kepadanya : “ Ya. Masih ada jalan “. Beliau berkata :
8
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
“ Utuslah aku “. Akupun memeluk beliau dengan pelukan hangat, pelukan
perpisahan yang terakhir kalinya. Akupun pulang ke Qitr dan beliau melanjutkan
pergi ke Chechnya.
Beliau dapat masuk ke Chechnya, akan tetapi ??? perang telah usai!!! Beliau
tinggal disana setelah perang selesai. Beliau mengajar dan membantu saudarasaudaranya
Bosnia. Dan sungguh beliau sangat merindukan untuk bertemu dengan
Hurun ‘Ien – bidadari – dan beliau selalu mengatakan “ Ya andaikan …….
Andaikan …….. Allahu Akbar ….. bagaimana rasanya bertemu dengan Hurun
‘Ien ….. bagaimana rasanya masuk Jannah ….. “.
Setelah berlalu satu tahun beliau keluar menuju negerinya Turki, maka
beliau menghubungi salah satu teman mujahidin dan mengatakan sambil
menangis : “ Apa yang menjadikanku keluar dari Chechnya ? Demi Allah !
Sesungguhnya hidup ini tidak berarti setelah usainya jihad dan ribat dan….. dan
….. dan … dan ….. “. Maka beliau kembali lagi kedua kalinya ke Checnya dan
tinggal disana hingga datanglah perang yang kedua.
Pada akhir hari-harinya beliau selalu bersama komandan yang mulia yaitu
Abu Ja’far Al Yamani – semoga Allah merahmatinya dan menerima amalnya -.
Ketika keduanya sedang merancang untuk memasang ranjau maka pada saat
itu juga meledaklah ranjau itu, maka kedua singa itu pun menemui syahadahnya.
Semoga Allah menerima keduanya di dalam bilangan para syuhada dan
menampatkan mereka di Jannah.
Semoga Allah merahmati perjalanan yang mulia itu dan merahmati wajah
yang bercahaya itu ………..
9
IV. ABU DUJANAH AS SYARQI
( FAHD AL QOHTONY )
Dalam memulai pembicaraan kisah seorang mujahid yang telah syahid insya
Allah, terlebih dahulu kami sampaikan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi
wasallam :
إِ نََّ أَحَدَكُ مَْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتىَّ ليََبْ قََى بَيْنَ هَُ
وَبَيْنهََا إِل ذِرَاعٌ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنهَِّ فَيسَْبِقَ عَلَيهِْ
الْكِتَابُ فَيَمُوتُ ثُمَّ يَدْخُلُ الْجَنَّهَ
“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian ada yang beramal dengan amalan
penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka itu tinggal satu hasta,
kemudian ia beramal dengan amalan penghuni Jannah, lalu Al Kitab (catatan
taqdir ) telah menetapkannya, kemudian ia mati lalu ia masuk ke dalam Jannah
“.
Ikhwan kita Abu Dujanah adalah seorang sopir Truk di daerah timur,
sementara di daerah timur inilah kejahiliyahannya begitu besar.
Suatu hari ketika ia sedang pergi ke Bahroin untuk mengantar paket, dia
seperti orang gila – sedang mabuk -, hingga akhirnya Truk yang dikendarainya
oleng dan terplanting di atas jembatan Bahroin. Akan tetapi Allah menyelamatkan
dia dengan mobilnya yang tersangkut di jembatan hingga ia tidak terjatuh ke laut,
dan ketika itu dia pingsan atas taqdir Allah.
Pada tahun 1413 H. atau pada awal tahun 1414 H. ada dua orang yang
hendak pergi ke Bosnia melalui jalan Bahroin. Ketika keduanya sedang melalui
Jembatan keduanya melihat Truk yang bagi mereka sudah tidak asing lagi, lalu
mereka berhenti dan turun menuju Truk tersebut, keduanya mendapatkan seorang
di dalam Truk tersebut yang ternyata ia adalah tetangga salah satu dari dua orang
tersebut yaitu Abu Dujanah-, kemudian orang tersebut dikeluarkan dari dalam
Truk, kemudian keduanya melanjutkan perjalanannya menuju timur.
Ketika keduanya selesai mandi dan wudhu maka keduanya sholat.
Kemudian keduanya memberi nasehat kepada seorang – yang diselamatkan dari
dalam Truk tersebut -. Kedua saudara itu berkata kepada orang tersebut : “
Jikalau engkau mati pada saat kecelakaan itu sungguh kamu mati dalam ma’siyat
bahkan lebih besar lagi, oleh karena itu pujilah Allah yang telah menyelamatkan
kamu dari kematian itu, karena Allah tidak mengakhiri hidupmu dalam
kemaksiyatan “. Nasehat kedua saudara ini masuk ke dalam hati lelaki tersebut.
Kemudian kedua saudara ini melanjutkan perjalanannya. Lalu lelaki itu – Abu
Dujanah – menginstropeksi diri dan meninggalkan teman-temannya yang rusak.
Ketika ada teman yang melihatnya di sebuh terminal Truk, mereka pergi
menemuinya dan didapati dia sedang sendirian dengan memegang Mushaf dan
sedang membacanya. Teman-temannya tidak percaya melihat pemandangan
tersebut dan mereka mengira bahwa dia hanya pura-pura karena takut dari –
incaran – pemerintah.
Setelah berlalu beberapa bulan, pulanglah kedua shahabatnya yang habis
pergi dari daerah timur. Kamudian ia pergi ke rumah salah satu dari keduanya,
lalu ia ketuk pintunya dan mengucapkan salam dengan suara keras.
10
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Saudara yang di dalam rumah tidak mengenalinya. – karena – jenggotnya
telah tumbuh lebat, pakaiannya diatas mata kaki dan terpancarlah cahaya dari
mukanya, kemudian ia mengenalkan dirinya – bahwa dia adalah Abu Dujanah -.
Bergembiralah hati saudara ini, tidak ada kebahagiaan selain pemandangan yang
bagus ini, kemudian ia dipersilahkan masuk. Dia bertanya tentang persoalan jihad
dan kondisi Bosnia dan keutamaan Syuhada dan para mujahidin dan ribath dan
….. dan….. dan …..
Setelah mendengar jawaban yang ditanyakan lalu ia berkata : “ Kalau
begitu jalan yang paling dekat menuju Jannah adalah Jihad fie sabilillah.
Sekarang umurku sudah 36 tahun dan dipenuhi dosa dan ma’siyat. Aku meminta
kepadamu demi Allah akan menemanimu berjihad !
Saudara tersebut berkata kepadanya : “ Sekarang Bosnia sedang dikepung
dari segala penjuru dan tidak mudah untuk masuk kesana, padahal saudarasaudara
kita disana sedang menanti ada orang yang bisa membuka jalan masuk.
Adapun kalau ditempuh dari Kroasia dan Slevonia kedua negara ini penuh
kema’siyatan, khomer, wanita jalang, dan penuh fitnah yang seseorang tidak
mampu menahannya “.
Abu Dujanah berkata : “ Aku akan pergi walaupun aku harus menunggu
selama satu tahun “. Dan dia berusaha memuaskan saudaranya itu.
Dan betul ternyata Abu Dujanah pergi ke Kroasia dan tinggal di sebuah kota
dekat pantai di Eropa yang penuh dengan fitnah dan gemerlapnya dunia,
sementara Abu Dujanah adalah seorang yang baru saja sadar dari kema’siyatan. Ia
telah sampai di kota itu yang merupakan perbatasan dengan Bosnia Herzegovina.
Ia tinggal di sebuah rumah yang kecil bersama seorang teman yang datang dari
Turki sekitar enam bulan lamanya demi mencari jalan masuk ke Bosnia. Seluruh
waktunya ia pergunakan sholat dan ibadah dan mempelajari urusan-urusan Dien
kepada seorang teman Da’I disana, hingga pada akhirnya ia mendapatkan kabar
gembira dibukanya jalan menuju Bosnia. Lalu pergilah ia ke Bosnia dan masuk ke
sana yang selama ini ia impikan dan nantikan untuk bisa masuk bergabung dengan
para mujahidin. Lalu bergabunglah ia dengan sebuah pasukan mujahidin di
daerah Zintisia dan ia tadrib (diklat) disana dan menyusun kekuatan.
Disana ada ma’rokah (medan perang) yang dekat dengan daerah Syirisya,
lalu beliau masuk ke daerah itu dan daerah itu adalah petama kalinya ma’rokah
(medan peperangan) yang ia ikuti dalam perjalanan jihadnya, dan Allah
memenangkan mujahidin dalam amaliah – oprasi – tersebut. Dan para mujahidin
membuat khondaq (parit) di front tersebut dan mendapatkan kemulian ribat
(berjaga) fie sabilillah.
Setelah berlalu dua bulan dari amaliah tersebut terjadilah amaliah yang lebih
kuat dan besar dari sebelumnya, yaitu amaliah Visico Qolava yang masih di satu
kawasan tersebut. Beliau ikut serta dalam amaliah tersebut dan amaliah tersebut
merupakan kebahagiaan tersendiri bagi beliau yang tidak dapat beliau
gambarkan.
Beliau adalah seorang pemberani yang tidak mengenal rasa takut, ia selalu
berbuat itsar (mementingkan keperluan orang lain) dan mengasihinya, dan orang
sama heran bila berteman dengan beliau.
11
Setelah amaliah tersebut tepatnya pada tahun 1414 H. beliau pergi
bergabung dengan Jam’iyah Ihya’ut Turots Al Islami Al Kuwaity dan bekerja
bersama mereka di kota Turovinik dan tinggal disana selama beberapa saat, dan
belaiu pun menikah di Bosnia dengan orang asli Dagestan.
Beliau sangat keras dalam menindak kemungkaran di kota tersebut hingga
beliau ditakuti oleh orang-orang fasiq di daerah itu. Bahkan sampai ke kawasan
Karwat di daerah Fitiza. Dan tidak ada seorangpun dari orang-orang fasiq yang
berani melewati daerah yang ditempati Abu Dujanah.
Sepanjang malam dan siang ia gunakan untuk berkhidmat kepada
masyarakat Bosnia, khususnya menangani orang dewasa dan anak-anak hingga
orang-orang yang berada di kota tersebut sangat cinta kepada ketawadhuan beliau
dan ruhiyah beliau yang mulia. Beliau mampu menguasai bahasa Bosnia dengan
sangat baik, oleh karena itu beliau dapat bergabung dan pergi bersama mujahidin
di Turovinika dan beliau habiskan urusannya disana dan beribath bersama mereka.
Teman-temannya menyampaikan habar kepadanya bahwa dalam waktu
dekat ini mau ada amaliah, maka beliau pun bersiap-siap.
Disetiap amaliah (medan perang) beliau selalu kembali pada pertengahan
jalan karena tidak dapat melanjutkan perjalanan karena beliau mengalami sakit
hinga pada akhir amaliah selesai. Sehingga pada saat terjadi amaliah Falasyij yang
kedua di waktu malam Arofah pada tahun 1415 H. beliau berangkat besama
seoarang teman dengan berjalan kaki menuju musuh dan pada saat ini beliau tidak
seperti biasanya ! beliau kelihatan tenang dan banyak menoleh kesana-kesini
seakan-akan beliau melihat sesuatu.
Waktu amaliah dilakukan pada pukul 12.00 malam dan dimulailah
pertempuran. beliau maju dengan membawa senjata RPG dan menghadang
pasukan Serbia. Beliau bersama seorang teman yang bernama Musthofa Al
Busnawy (orang Bosnia) hingga mendekat ke parit + sejarak 10 meter, dan beliau
bersiap-siap menyerang Serbia, akan tetapi timah panas telah menembus leher
beliau terlebih dahulu hingga beliau jatuh sebagai syuhada. Dan keluarlah dari
mulut beliau seperti cahaya.
Akh Musthofa memeriksa tempat terbunuhnya beliau – untuk melrtakkan
jasad beliau – lalu ia pergi dan meninggalkan beliau dikarenakan dahsyatnya
serangan musuh, dan para mujahidin pun widerawl (mundur). Dan akh Mustofa
hampir-hampir tak mampu berjalan karena menangisi saudaranya “ Abu Dujanah
“.
Ketika para mujahidin lainnya mendengar kejadian tersebut, maka
komandan pasukan memerintahkan untuk meyakinkan keberadaan tempat
terbunuhnya Abu Dujanah. Lalu komandan mengutus dua orang singa Allah untuk
mengambil mayat Abu Dujanah. Ternyata benar Abu Dujanah telah terbunuh,
akan tetapi mayat tersebut telah diserang oleh pasukan Serbia dan mayat tersebut
disimpan oleh pasukan Serbia selama lebih dari dua bulan.
Kemudian Palang Merah menghubungi tentara Bosnia yang menghabarkan
akan permintaan Serbia untuk menukar mayat. Dan ternyata diantara mayat-mayat
itu ada mayat seorang arab. Lalu tentara Bosnia menghabarkan kepada mujahidin
– bahwa diantara mayat tersebut adalah seorang arab -, lalu pergilah komandan
dan diikuti oleh beberapa mujahidin.
12
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Komandan tersebut berkata : “ Kami pergi ke tampat penyimpanan mayat
dan kami dapatkan mayat-mayat yang baru saja terbunuh kurang lebih baru satu
hari. Bau mayat-mayat tersebut sangat busuk. Lalu aku masuk dan berjalan
diantara mayat-mayat hingga aku dapatkan peti mayat yang tertutup. Lalu peti
itu aku angkat dengan seorang teman dan kami keluarkan mayat tersebut.
Ternyata mayat tersebut dibungkus dengan jaitan nilon. Tentara memberi tahu
kami bahwasanya mayat-mayat ini diantaranya ada mayat seorang arab yang
tidak disimpan di dalam Almari Es untuk mayat, akan tetapi dicampakkan di
tanah lapang. Lalu kami dekati saudara kami itu – mayat Abu Dujanah -. Lalu
aku buka sendiri penutup itu dari arah kepala. Perasaan khawatir menggelayut di
kepalaku dan kepala temanku, bagaimana keadaan mayat tersebut setelah dua
bulan lebih ?, apakah telah dimakan ulat ? atau telah berubah kondisinya ? atau
…… atau ….. atau ….. ? lalu aku mulai membuka tutup itu, tangan dan tubuhku
tiba-tiba gemetar, karena ternyata wajahnya seperti bulan dan jenggotnya
berwibawa yang memancarkan cahaya putih dan tubuhnya ….ternyata dia …..
dia…. Dan tidak ada perubahan sama sekali. Aromanya seperti aroma pohon
Inai. Allah menyaksikan kejadian tersebut kemudian para ikhwah dan semua
yang hadir pun menyaksikan hal tersebut.
Mayatnya telah berlalu dua bulan setengah tapi tidak berubah sama sekali
hingga aromanya pun tidak berubah.
Allah telah mengasihi singa itu dan memberikan kepadanya seorang putri
( bernama Nauroh ), dan memberinya kebaikan dan hidayah. Sekarang ia berumur
enam tahun dan tinggal bersama ibunya di Bosnia di kota Tuzela.
Selamat tinggal wahai Abu Dujanah. Semoga Allah memperbanyak bilangan
orang-orang sholih dan mujahidin sepertimu.
13
V. ABU HAMMAM AS SYAHRONI
Beliau seorang pemuda yang datang dari daerah madinah, lima kilo di
selatan Kerajaan Arab Saudi. Beliau tumbuh diatas ketaatan kepada Allah. Sejak
kecil beliau telah tekun mengikuti halaqoh hafalan Al Qur’an al Karim. Beliau
sangat tenang penampilannya, rendah diri, lembut perangainya, bersih hatinya
yang itu membedakan beliau dengan teman-teman lainnya.
Ketika terjadi tragedy Bosnia Herzegovia, beliau pada saat itu baru berumur
dua puluh tahun. Beliau selalu mengikuti berita-berita tentang penderitaan yang
dialami saudara-saudaranya – seiman -, dan beliau berkehendak mendatangi
mereka dengan semampu beliau.
Pada suatu hari beliau duduk-duduk dengan seorang temannya
membincangkan kesedihan mereka tentang tragedi yang terjdi di Bosnia dan
keduanya ingin pergi bergabung dalam jihad di negeri itu.
Benar ….. keduanya bertekad untuk berangkat, lalu kedunya mengikuti
berita-berita bagaimana caranya bisa sampai ke negeri tersebut. Sampai
mendapatkan jalan menuju kesana lalu kedunya pergi ke Kroasia melalui jalan
dalam. Akan tetapi Kroasia menolak keduanya dan tidak mempersilahkan mereka
masuk, maka keduanya pun kembali dengan perasaan sedih dan gundah gulana,
matanya berlinang air mata. Kemudian mereka mencoba kedua kalinya untuk bisa
masuk ke bumi Bosnia.
Dengan izin Allah keduanya dapat masuk ke Bosnia pada akhir bulan
Jumadil akhir pada tahun 1415 H.
Sampailah teman ini di kantor mujahidin dan mereka – para mujahidin –
adalah orang yang berakhlak mulia dan mendalam agamanya. Kedua teman itu
pergi ke sebuah Kamp latihan – muasykar – dan keduanya tadrib disana. Setelah
itu keduanya pergi ke Front.
Setiap saat Abu Hammam rohimahullah bercita-cita untuk bisa mendapatkan
syahadah dan beliau bersemangat menghafalkan Al Qur’an dan mengulangulangnya.
Beliau selalu puasa dan sholat malam dan selalu ikut serta dalam ribat
selama kurang lebih enam bulan lamanya sampai datanglah musim panas pada
tahun 1415 H.
Pada musim itu terjadilah peperangan paling besar yang terjadi di Bosnia
yang banyak menewaskan para mujahidin dan musuh-musuh Allah. Pada saat itu
pula terjadi peperangan – yang berakhir – kemenangan yang gemilang. Pada saat
itu Serbia menguasai puncak gunung dan menguasai strategi perang dan
perlindungan mereka pada saat itu sangat kuat. – dengan begitu, hilanglah –
semangat – tentara Bosnia dalam melawan Serbia, karena sebelumnya sudah
pernah dicoba.
Setelah itu para komandan Bosnia berkumpul – dan bermusyawaroh –
bahwa daerah itu tidak bisa ditaklukkan kecuali dengan menggunakan senjata
penerbangan yang tidak dimiliki tentara Bosnia. Maka mereka meminta pasukan
mujahidin untuk pergi menuju daerah tersebut dan mencoba memenangkan
peperangan tersebut.
14
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Benar ….. para singa mujahidin telah datang ke daerah – perang – itu dan
tinggal disana beribat selama kurang lebih delapan bulan hingga datanglah hari
peperangan.
Para mujahidin dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok
pasti terjadi kisah-kisah yang menarik dan setiap kelompok pasti ada yang syahid.
Abu Hammam rohimahullah berada dalam kelompok yang dipimpin oleh
Abu Sa’id Al Falestini. Amaliyat itu dilakukan setelah fajar dan pada waktu itu
masih gelap sekali. Salah seorang mujahidin berkata : “ Kita tidak bisa
menengarai parit yang digunakan berlindung oleh Serbia “.
Mulai pecahlah peperangan dan kami melempar mereka dengan granat maka
terbunuhlah tantara Serbia. Akan tetapi parit ini memang menghalangi kita karena
digunakan berlindung oleh Serbia. Pada saat itu masih ada seorang Serbia yang
belum terbunuh, katika kami maju ke depan tiba-tiba orang Serbia itu menyerang
dan datang dari belakang parit maka terbunuhlah Abu Ghorib Al Britoni
rohimahullah, dan Serbia juga menyerang lima mujahidin lainnya. Mereka
mengira komandan –mujahidin – hendak maju, akan tetapi dengan pertolongan
Allah mereka merasa ketakutan dan kegoncangan hingga ia tidak dapat
membunuh kelima mujahidin itu.
Dengan semampunya mujahidin pun membalas membunuh mereka hingga
Allah memberikan karomah dengan dapat membunuh seorang dari Serbia.
Majulah seorang ikhwah mujahidin dan mendapati seorang Serbia yang terluka
sedang bersembunyi lalu dia bunuh orang Serbia itu.
Ada kisah yang menakjubkan, bahwa komandan Abu Sa’id Al Falestini
menyerbu sendirian ke parit tempat Serbia, disitu ada dua orang, beliau menyerbu
sambil bertakbir. Ketika beliau menyerbu kedua orang yang ada disitu, beliau
berhadap-hadapan dengan keduanya. Beliau hendak menghabisi keduanya dengan
Kalasinkof akan tetapi tidak ada peluru yang keluar satu pun. Kemudian singa
Abu Said merobohkan orang Serbia itu dengan memukulkan Kalasinkof ke
wajahnya. Dan pada saat itu juga datanglah seorang Serbia yang lain lalu
menyerang Abu Said hingga melukai tangan beliau. Dan pada saat itu juga
datanglah seorang mujahid dari Yaman yang menyerang orang Serbia itu dengan
senjata Al Bika hingga selamatlah Abu Said dengan pertolongan Allah.
Kami maju setelah menuruni parit untuk mendaki ke puncak dua gunung
diantara tiga puncak. Pada waktu itu jumlah mujahidin tinggal sedikit karena telah
terbunuh dua orang dan banyak yang terluka.
Diantara mereka yang ada dalam pasukan itu harus ada seorang yang
menjadi komandan, lalu kepemimpinan itu diserahkan kepada salah seorang
ikhwah. Lalu turunlah ia bersama Abu Hammam rohimahullah menuju parit
tempat persembunyian Serbia. Disana jumlah orang Serbia banyak sekali. Maka
komandan itu dan Abu Hammam mengelilingi parit tersebut dan meluncurkan
tembakan ke arah Serbia hingga kocar-kacirlah orang Serbia dari parit. Setelah itu
datanglah Abu Hammam dan meminta kepada komandan untuk mengarahkan
penglihatannya kepada para syuhada. Diantara mereka yang syahid adalah Abu
Abdullah As Syibani, Shofiyuddien Al Yamani dan seorang yang asing – tidak
dikenali -. Kemandan itu berkata : “ Jumlah kita sedikit sementara daerah ini
membutuhkan penjagaan, maka kamu jangan pergi – tetaplah disini – “. Maka ia
15
memasrahkan – urusan jaga – ini kepada Abu Hammam, dengan syarat beliau –
komandan – segera kembali lagi. Kemudian komandan itu pergi meninggalkan
tempat itu dan melayangkan pandangan kepada mereka lalu kembali lagi.
Ketika beliau kembali, Abu Sulaiman Al Hadhromi meminta komandan
untuk melayangkan pandangannya dan kembali lagi. Maka komandan itu menolak
permintaannya hingga kembalilah seorang ikhwah ke parit-parit penjagaan itu.
Pada saat itu jatuhlah serangan Roket di dekat ikhwah Hatib Almani hingga
mengenai perutnya. Pada waktu yang sekejap meluncurlah serangan Roket yang
lain jatuh diantara Abu Hammam dan Abu Sulaiman hingga keduanya terbunuh –
semoga Allah merahmati keduanya – dan diterima sebagai syuhada’ di jalan-Nya.
Abu Sulaiman adalah orang yang hafal Al Qur’an. Akhlak dan juga
agamanya tidak jauh beda dengan saudaranya “ Abu Hammam “ semoga Allah
merahmati keduanya.
16
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
V. ABU HISAN AL MAKI
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kita, beliau
bersabda :
أُو صَََِيْكُمْ بِالنَْ صََََارِخَيْرًا…..فَإِ نََََّ النَّا سََََ
يَزِيْدُونَ وَاْلنَْصَارُ ليََزِيْدُونَ…
“ Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada orang Anshor
….. karena sesungguhnya manusia itu bisa bertambah banyak dan orang-orang
Anshor itu tidak bertambah – jumlahnya- “.
Beliau masih ada hubungan silsilah dengan orang-orang Anshor – semoga
Allah meridhoi mereka dan saya pun ridho kepada mereka -.
Beliau adalah cucu dari orang yang memberikan perlindungan , pertolongan,
kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka – orang Anshor –
telah membela Rosulullah dengan darah mereka, anak-anak mereka dan harta
benda mereka.
Beliau bertubuh kurus, akhlaknya baik, baik dalam pergaulan, dan selalu
dzikir kepada Allah.
Beliau pergi berjihad ke Afghanistan ketika berumur kurang dari dua puluh
tahun, dan beliau bergabung dengan para mujahidin di Tajikistan. Beliau beribat –
jaga di front – dan bersabar disana.
Setelah selesai menunaikan tugas di Tajikistan beliau tidak mau ketinggalan
bahkan beliau bergerak seperti singga yang bergerak untuk menolong saudaranya
di Bosnia Herzegovina. Maka sampailah beliau ke Bosnia Herzegovina dan pergi
ke Gunung Tuzela. Beliau ribat disana bersama para ikhwah mujahidin.
Disela-sela beliau ribat disana beliau sempatkan untuk turun ke Masjid-
Masjid desa bersama para mujahidin lainnya. Beliau mengajar membaca dan
manghafal Al Qur’an kepada anak-anak, dan mengajari sholat yang sesuai dengan
sunnah Nabi shollallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara yang benar. Beliau juga
mengajarkan aqidah yang benar, beliau dipilih dan disukai – oleh murid-muridnya
– daripada mujahidin lainnya di dalam methodhe mengajar.
Beliau adalah seorang pemberani, tubuhnya atletik, hatinya lembut disaat
dzikir, wajahya berseri-seri, ruhnya bersinar, ia selalu membantu temannya dan
beliau selalu memasuki kancah peperangan. Beliau melawan dengan gagah berani
dengan selalu yakin akan janji Allah.
Telah usailah jihad di Bosnia Herzegovina, beliau merasakan dadanya sesak
dan sakit serta merasakan kesedihan yang mendalam – dikarenakan jihad telah
usai -. Karena bagaimana jihad ini telah usai dan Allah belum memilihnya sebagai
syuhada’ …….????? Maka beliau pun mencela dirinya dan menghina dirinya
sendiri – mengapa dirinya tidak dipilih sebagai syuhada’ -. Lalu beliau
menginstropeksi diri. Maka beliau kembali semangat lagi, beliau selalu berdo’a
dengan khusu’ kepada Allah agar beliau dipilih oleh Allah di dalam kumpulan
orang-orang yang menjadi syuhada’ dan dipertemukan dengan segera bersama
mereka.
17
Benar ….. beliau telah mendengar dengan benar bahwa ada seruan jihad fie
sabilillah lagi dan itu berada di bumi Atsyubiya, maka beliaupun terbang kesana
dengan perasaan gembira.
Beliau menyiapkan diri untuk pergi dengan tanpa ragu. Ternyata benar …..
beliau pun akhirnya sampai juga ke sana dengan selamat dan dapat berjumpa
dengan para mujahidin disana. Dan mereka disana bertemu dengan para
mujahidin yang datang dari berbagai penjuru bumi lainnya.
Kondisinya lagi sulit, mereka harus berjalan dalam waktu yang lama dan
panjang – dalam melakukan amaliyat -, – di tengah perjalanan mereka
menentukan tempat yang baik dan nyaman untuk istirahat sejenak. Mereka
berbaring diatas punggung mereka dan mengangkat kaki mereka di atas
pepohonan agar darahnya turun.
Pada saat itu – datanglah – pasukan nashrani yang menyerbu mereka dengan
serbuan yang dahsyat. Maka para mujahidin pun bergabung, semuanya terdiri dari
mujahidin asli Atsyubi selain Abu Hisan dan seorang ikhwah arab.
Ketika Abu Hisan dan seorang teman arab sedang bergerak, pada saat itu
meluncurlah tembakan dari belakang beliau dan tepat mengenai beliau. Maka
gugurlah beliau sebagai syuhada insya Allah.
Para mujahidin menghubungi klompoknya hingga bergeraklah mereka.
Pada saat itu beliau bersama seorang ikhwah arab baru masuk dua hari
lamanya di desa yang beliau singgahi, lalu beliau pun berjumpa dengan salah satu
teman lainnya.
Desa yang berdekatan – mendengar habar kesyahidan beliau – hingga
mereka berkumpul semua. Maka pulanglah mereka ke bumi Al Kamin untuk
mendapatkan saudara kita Abu Hisan pada hari terbunuhnya beliau.
Jasadnya tidak berubah, baunya tidak berubah, hingga wajahnya tetap
tampak berseri-seri…..
18
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
VI. ABU MARYAM AL AFGHONI
Abu Maryam Al Afghoni ………… kedua orang tuanya telah hijrah ke
Almania dari Afghanistan, lalu tumbuhlah beliau di negara yang suka bermewahmewah
……… yang penuh dengan kema’siyatan dan fitnah ………. Akan tetapi
kedua orang tuanya orang yang teguh menjaga Diennya …… atas kemulian kedua
orang-tuanya dan asuhan keduanya di negeri barat ini !!!
Abu Maryam rohimahullah tumbuh di dalam keluarga yang teguh dengan
agamanya …….. dan beliau dibina dalam asuhan kedua orang-tuanya dengan
pendidikan Islamy…..
Beliau mendengar kisah ujian yang dialami saudara-saudaranya di
Afghanistan ….. padahal Afghanistan adalah negeri kelahirannya ….. dan tidaklah
yang terjadi disana kecuali banyak tanda-tanda kebesaran Allah dan karomahkaromah…..
Maka Abu Maryam minta ijin kepada kedua orang-tuanya untuk berangkat
ke Afghanistan ….. maka kedua orang-tuanya merestuinya setelah beliau
bersikeras untuk tetap berangkat ke Afghanistan …..
Benar ….. beliau berangkat dalam rangka menolong saudara-saudaranya di
Afghanistan …… beliau ribath, berjihad dan tinggal di sana dalam tempo waktu
yang lama, beliau mengawali kegiatan-kegiatan jihad yang menggetarkan di sana
…..
Menanglah Kabul ….. kemudian beliau pulang kepada kedua orang-tuanya
di Almania ….. dan beliau melakukan birrul walidain kepada keduanya ….. dan
beliau mempersunting seorang gadis Almania yang baru saja masuk Islam, akan
tetapi wanita tersebut demi Allah mempunyai sejarah hidup yang baik seperti para
shahabiyah rodhiyallahu ‘anhunna…..
Ketika ia sudah masuk Islam, ia bagaikan nyala api yang berkobar dalam
menuntut ilmu dan berdakwah kepada Dien Islam….. dan jadilah wanita itu
kenikmatan yang indah bagi Abu Maryam setelah Allah Ta’ala atas keteguhannya
atas Diennya …..
Abu maryam menumbuhkan halaqoh-halaqoh (kajian) ilmiah …… dan
menghafal Al Qur’an Al Karim ….. dan membuat kegiatan dakwah ….. beliau
bagaikan nyala api yang dapat menerangi kaum muslimin di Almania dalam
mengajarkan kebaikan dan Dien …..
Ketika sampai kepada pendengaran beliau habar yang terjadi pada saudarasaudara
beliau di Bosnia Herzegofina ….. tergeraklah kemuliaan seorang muslim
lagi mujahid. Lalu beliau meminta restu kepada kedua orang-tuanya untuk
berjihad yang kedua kalinya….. akan tetapi kedua orang-tuanya menolak dengan
keras …..
Istrinya yang asli orang Almania berusaha menenangkan perasaan kedua
orang tua baliau untuk mengijinkan berangkat berjihad, dan ia menghiba kepada
kedua orang-tua suaminya sampai keduanya merestui keberangkatannya …..
Benar, meledaklah kegembiraannya, lalu beliau mengajak temannya Abu
Hudzaifah Al Afghoni rohimahullah untuk berangkat berjihad bersamanya …..
lalu keduanya menyiapkan koper untuk bepergian dan keduanya mengucapkan
kata perpisahan pada keluarganya bahwa perpisahan ini adalah yang terakhir …..
19
dan keduanya melemparkan pandangannya yang terakhir kalinya kepada
keluarganya …..
Keduanya telah sampai di Bosnia pada akhir tahun 1412 H. dan keduanya
bergabung dengan para mujahidin di tengah-tengah kota Bosnia …..
Para mujahidin melakukan amaliah besar-besaran di front Fisiko ….. dan ini
adalah front yang terjadi di jalan menuju Sarajefo ….. dan para mujahidin pun
menyiapkan persiapan yang matang pada amaliah yang berat ini ….. sangat sulit
kondisinya untuk mengadakan persiapan ….. dan masanya bertepatan pada
musim dingin dan pada saat lebatnya turun salju sampai beberapa meter tingginya
…..
Para mujahidin meminta pertolongan kepada Allah pada peperangan itu dan
mereka mengadakan persiapan yang kuat dan mereka saling mengadakan Bai’atul
Maut “ Sumpah Mati “…..
Strategi yang dilakukan dalam peperangan ini adalah para mujahidin maju
ke barisan Serbia dan mematahkan barisan mereka serta mengepung kota Ilyas
yang strategis ….. dan daerah itu letaknya jauh dari Sarajefo dalam beberapa kilo
meter jaraknya untuk memudahkan mereka sampai disana setelah memenangkan
perbatasan Sarajefo yang telah terkepung …..
Dimulailah peperangan itu dan bergemalah suara takbir dan tahlil ….. dan
bercampurlah antara salju yang putih dengan darah yang merah …..
Para mujahidin mampu menerjang barisan Serbia dan maju ke tengah kota
Ilyas….. akan tetapi Allah telah membukakan – kemenangkan – atas mereka
daerah yang lebih besar dari pada yang mereka lakukan …..
Kekuatan mujahidin terpecah diantara Gunung daerah tersebut….. padahal
pasukan Serbia mengenal sekali keberadaan mujahidin….. maka pasukan serbia
menghilangkan pelindung yang berada di belakang mujahidin ….. dan
terbunuhlah pasukan Serbia dalam jumlah yang sangat banyak ….. tiba-tiba
datanglah tembakan yang mengenai leher Abu Maryam dan serpihan Bom yang
membinasakan ….. maka terkaparlah Abu Maryam rohimahullah bersimbah darah
….. hingga keluarlah ruhnya kepada Penciptanya …..
Sungguh ! Allah telah mengasihi Abu Maryam ….. Dan semoga Allah
melimpahkan kebaikan kepada istri dan putrinya Maryam ……. Ya Allah !
kabulkanlah ……………
20
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
VII. ABU MU’AD AL QITRY
Beliau adalah seorang pemuda dari penduduk Qitr, lahir dari keluarga suku
Qitriyah yang besar dan bepengaruh, beliau diberi hidayah oleh Allah melalui
Jama’ah Tabligh. Kemudian beliau melakukan khuruj (keluar) ke Pakistan dalam
rangka dakwah kepada Allah, dan ternyata benar beliau telah pergi ke negara
tersebut.
Ketika beliau telah sampai di sana ternyata beliau hanya sendirian, lalu
beliau mengalihkan programnya pergi ke Peshawar, dan beliau tinggal di sana.
Kemudian beliau menyewa taksi dan berkata kepada sopirnya : “ Aku ingin
bertemu orang arab “. maka sopir taksi itu berkata kepada : “ Naiklah aku tahu
tempat orang arab “. benar beliau pun naik bersamanya dan pergi dengannya.
Ketika sampai di tujuan maka sopir taksi memberhentikan mobilnya di
depan penjaga pintu gerbang rumah orang anshor arab dan rumah itu adalah
tempat penerimaan tamu bagi mujahidin di sana. Salah seorang mujahidin arab
menyambutnya dan menanyai keperluannya. Lalu beliau berkata: “ Aku datang
untuk keluar fie sabilillah “. Maka teman mujahidin itu berkata kepadanya : “
Sungguh anda telah sampai. Inilah tempat untuk keluar fie sabilillah …..
Benar, beliau telah bergabung dengan para pemuda mujahidin dan
mengadakan I’dad dan beliaupun ribath dan berjihad …..
Roman mukanya memancarkan ketenangan, dan perangainya begitu
bersahaja – sehingga orang yang bertemu dengannya – senang kepadanya – dan
ruhiyahnya yang sangat baik. Beliau berambut panjang dan indah, wajahnya
tampan menawan, dan suaranya lirih dan pelan …..
Peperangan-peperangan di bumi Afghanistan telah usai dan beliau
memutuskan untuk pulang kembali ke negaranya di Qitr.
Pada saat itu kaum muslimin membutuhkan pertolongan. Mereka datang
dari negara Romawi Yaitu dari Bosnia Herzegofina akan tetapi beliau belum
tergerak juga untuk berangkat ke sana.
Ternyata benar, beliaupun akhirnya berangkat – ke Bosnia – untuk
menolong saudara-saudaranya di sana, dan sampailah beliau ke negara Bosnia
Herzegofina lalu bergabung dengan para mujahidin arab di sana.
Pada saat itu Kroasia sedang merevolusi kaum muslimin di sana dan
mengepung kaum muslimin yang lemah.
Sebagian orang arab ingin pergi ke daerah Mahroj untuk mendatangi
pertemuan di sana, dan mereka menyewa sebuah mobil kecil karena jumlah
mereka hanya empat orang. Diantara mereka adalah Abu Mu’ad rohimahullah.
Ternyata sopir salah jalan dan mereka telah masuk di kawasan Kroasia,
maka pada saat itu seorang polisi kroasia memberhentikan mereka. Ini merupakan
pekerjaan rutin polisi di sana. Setiap kali memberhentikan – kendaraan – maka tak
lepas dari memegang Pistol dan RPG. Kemudian mereka ditahan sebentar lalu
diborgol dengan rantai, lalu mereka digelendeng menuju Penjara. Ternyata disana
sudah ada empat mujahidin yang telah ditahan sebelumnya. Mereka mendekam di
dalam penjara kira-kira sudah empat bulan lamanya, didalamnya mereka
merasakan berbagai macam kejadian dan ujian.
21
Sesekali orang-orang Kroasia itu mengyiksa mereka di depan kaum
muslimin – lainnya yang di tahan di dalam penjara -, komandannya datang kepada
mujahidin yang ditahan dan meluapkan kemarahannya dengan memukuli mereka,
hingga sebagian mereka ada yang mati karena saking beratnya siksaan yang
dideritanya. Orang-orang Kroasia itu menyakiti mujahidin dengan berbagai
macam cara yang mereka bisa, akan tetapi Allah mengokohkan hati dan pendirian
para mujaidin.
Tiada hari yang mereka lalui kecuali ada kejadian yang menggelikan, dan
Allah meringankan penderitaan mereka dengan itu. Dan benar Allah telah
membersihkan hati dan jiwa mereka – dan kita tidak mensucikan seseorang atas
Allah -.
Sungguh Abu Ali al Kuwaity disiksa dengan siksaan yang sangat dahsyat
melebihi siksaan yang ditimpakan kepada teman-temannya yang lain, begitu juga
dengan Abu Mu’ad dan Abu Sholih al Qithry, dan mereka semua telah dipilih oleh
Allah disisi-Nya sebagai Syuhada’ insya Allah.
Diantara perbuatan bejat mereka terhadap mujahidin adalah, suatu malam
mereka mengambil salah satu tahanan dari mujahidin, kemudian mereka
mendudukkannya di depan televisi dan disetelkan Vidio, ditampilkan kepada
mereka film Porno sementara moncong senjata berada di belakang saudara kita.
Orang-orang Kroasia menekan mereka dan mengancam : “ Jika kami melihat
kamu menundukkan pandangan maka akan kami habisi hidup kamu “. Ini bukan
siksaan yang menyenangkan, karena sungguh orang-orang Kroasia telah
mengetahui bahwa Islam mengharamkan perkara yang semacam ini.
Yang terpenting adalah bahwa singa Allah yang pemberani itu telah syahid
insya Allah. Al Mu’taz billah al Mishri, beliau telah merancang beberapa masa
lamanya untuk membebaskan mujahidin yang tertawan dengan cara
membebaskan teman-temannya mujahidin yang ditawan oleh orang-orang Kroasia
yang terlaknat. Dan benar berhasillah apa yang direncanakannya, beliau
menyandra komandan Kroasia di tengah kota Bosnia kemudian ditukar dengan
para mujahidin yang tertawan.
Kisah ini sangat terkenal dan telah dishoting di dalam kaset Vidio, namanya
“ Bariqotu Amal “.
Allah telah menetapkan saudara kita Abu Mu’ad dan orang-orang yang
bersamanya bisa bebas, maka bergembiralah mujahidin dengan bebasnya mereka,
kemudian mereka bergabung lagi dengan para mujahidin dan kembali ke medan
perang.
Setelah bebarapa masa para ikhwah dari Qitry memutuskan untuk keluar
dari Bosnia untuk kembali ke Qitr melalui jalan Bandara Sarajevo. Para mujahidin
Qitry ini meninggalkan beberapa pemuda mujahid, mereka adalah Abu mu’ad Al
Qitry, Abu Sholih dan Abu Abdullah al Qitry, lalu mereka pergi menuju Sarajevo.
Pada waktu itu Sarajevo terkepung oleh Serbia dan jalan yang bisa dilalui
adalah melalui jalan Gunung Al Multawiyyah. Akhirnya mereka pun sampai di
Bandara Sarajevo dan menyerahkan berkas perjalanan mereka. Mereka berkata : “
Kami akan kembali untuk bersama-sama lagi dalam peperangan yang akan
datang dari Sarajevo sebelum dua hari atau tiga hari perjalanan kami “. Dan
22
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
benar mereka telah kembali pada saat peperangan tiba, kemudian mereka pulang
lagi ke Sarejevo.
Mereka sampai disebuah desa yang bernama Bazaritish. Salah satu
pemimpin desa itu mendapati mereka berbahasa arab, maka pemimpin itu pun
memuliakan mereka dan berkata kepada mereka : “ Saya akan antar kalian ke
Sarajevo dan akan saya tunjukkan kalian jalannya “. Kemudian mereka
mengendari mobil. Pemimpin desa itu berkata : “ Maaf izinkanlah aku kembali
untuk berpamitan kepada anak-anakku “. Maka kembalilah mereka bersama
pemimpin itu, kemudian pemimpin itu masuk rumah dan pamitan kepada anakanaknya,
dan beliau berwasiat kepada istrinya yang sholihah dan juga kepada
anak-anaknya yang baik. Kemudian pemimpin itu mengantarkan ke Qitr dan
menunjukkan jalan kepada mereka.
Salah satu komandan Bosnia “ Kamina “ – dia adalah seorang Komunis –
membunuh mereka semua ketika mereka berada di perjalanan. Kemudian dia
meletakkan khomr disamping mereka dan difoto, lalu gambar itu dikirimkan ke
sebuah surat kabar dan ia berkata : “ Mereka telah datang dalam kondisi mabuk
dan mereka masuk ke Serbia lalu mereka di bunuh oleh orang-orang Serbia “.
Melihat hal tersebut berdirilah seorang istri orang Bosnia lalu
mengumpulkan manusia dan para masul – pemimpin – di sana, dan perempuan itu
memuji Allah atasnya.
Wanita tersebut membersihkan nama baik suaminya dan orang yang
bersamanya dari fitnah ini dan ia ajak orang-orang Bosnia untuk menuntut balas
suaminya dan para mujahidin dari perbuatan – bejat – komandan itu.
Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada ketiga mujahid itu dan
ditempatkan di dalam Jannah-Nya.
Ya Allah ! Terimalah mereka ……………………
23
VIII. ABU YASIR AL IMAROTI
Abu Yasir Al Imaroti, berasal dari negeri Al Imarot dari kota As Syariqoh. Beliau
seorang pemuda yang lahir dari keluarga hartawan. Ibunya asli Holandia dan bapaknya
seorang pekerja sukses.
Bapaknya menikah dengan ibunya ketika bapaknya sedang mengadakan perjalanan
dalam mengurus bisnisnya. Akan tetapi Allah berkehendak membuat perselisihan diantara
kedunaya hingga bapaknya menceraikan ibunya ketika sudah mempunyai anak satu.
Sesuai peraturan yang berlaku, anak ditinggalkan pada istri untuk dididiknya.
Pada beberapa kesempatan bapaknya pun mengunjunginya dan tinggal di Holandia
untuk menyelesaikan keperluannya.
Anak ini kini tlah dewasa, ia telah berumur empat belas tahun dan ia masih tinggal
di Holandia. Bapaknya mempunyai teman yang senasib dengannya yaitu mempunyai
seorang istri dan anak lelakinya. Istrinya di cerai dan – sekarang tinggal bersama anak
lelakinya tinggal di Rusia.
Keduanya – bapak Abu Yasir dan seorang temannya – bersepakat untuk pergi ke
negeri yang dahulu mereka nikah disana untuk mengadakan Ruju’ – nikah ulang -dengan
istrinya dan anaknya.
Benar ….. keduanya terbang ke negeri istrinya masing-masing, mengunjungi istri
dan anaknya dan ternyata keduanya adalah bertetangga di daerah Syariqoh.
Bapak Abu Yasir memasukkannya dan anak tetangganya ke sebuah madrasah untuk
belajar bahasa arab. Kedua anak itu diberi uang dan dibelikan mobil baru. Hari-harinya
hidup dalam gelimang harta dan kemewahan, setiap hari dibagi uang seribu dirham.
Abu Yasir bersahabat dengan anak tetangganya, dan anak tetangganya ini selalu
mengagungkan Rusia dengan kebiasaan hidup disana.
Suatu hari – anak tetangga – itu membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang
wartawan Rusia yang menerangkan peperangan Afghanistan dan keberanian serta
pengorbanan mereka, dan selalu menjaga agama mareka dan… dan … dan …
Setelah membaca buku, anak itu pergi ke Abu Yasir dan berkata kepadanya : “
Bagaimana menurutmu mereka – orang Afghanistan – itu ? “. Ia menjawab : “ Aku
mengerti ada sebuah perpustakaan milik orang Afghanistan di Dubai, bagaimana
menurutmu kalau kita pergi kesana bersama “. Benar ….. keduanya pun pergi ke sana.
Ternyata perpustakaan itu adalah milik Hikmatyar. Keduanya melihat majalahmajalah
jihad dan cetakan jihad, mereka mengambil banyak hal darinya lalu pulang.
Keduanya membaca – majalah-majalah dan cetakan yang ada – dengan tekun dan
mendalam dan keduanya mengikuti berita-berita mujahidin Afghan dalam mengusir
Rusia.
Benar ….. ternyata keduanya menyiapkan diri dan terbang menuju Afghanistan.
Keduanya sampai di sana dan diterima oleh teman-teman dari arab di Baitul Anshor –
rumah untuk menampung mujahidin – dan dari sana lalu dibawa ke Kamp Al Faruq.
Setelah itu mereka pergi ke Front Jalalalabad.
Keduanya merasakan kenikmatan yang ada disana dan keduanya pun meninggalkan
kenikmatan dunia dan keindahannya dan – kenikmatan dunia itu -diletakkan di belakang
pungungnya.
Kedua bapak anak tersebut bersedih berpisah dengannya, maka kedua orang tua itu
pun pergi ke Pakistan untuk menjumpai kedua anak itu.
Benar ….. kedau orang tua itu sampai disana dan langsung disambut oleh kedua
anaknya, lalu keduanya pulang bersama orang tuanya ke Al Imarot. Akan tetapi fikiran
keduanya tidak menentu dan angan-angannya melayang-layang. Lalu keduanya
24
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
menyampaikan dakwah kepada ibunya masing-masing yang pada saat itu masih
beragama nashrani hingga Allah memuliakan keduanya dengan masuk Islam.
Abu Yasir mendengar tragedi yang terjadi di Bosnia Herzegovina, lalu ia
menghabari temannya, akan tetapi temannya tidak bisa menyertainya karena
kesibukannya.
Abu Yasir mengadakan perjalanan lagi ke medan jihad hingga sampailah ia ke bumi
Bosnia Herzegovina. Beliau bergabung di Front Jlizonubauly dan ribat bersama
mujahidin di sana. Dia bersama kedua teman tadribnya masuk ke Bosnia – mereka adalah
– Abbas Al Khoulani dan Abu Ali Al Bahroini.
Sebagaimana sifat para syuhada, beliau selalu melayani teman-temannya dengan
tenang dan bersikap lemah lembut kepada mereka.
Allah memberikan kemulian kepada beliau dengan mengikuti banyak peperangan
melawan Serbia dan Kroasia yang melancarkan serangan kepadanya, hingga datanglah
hari beliau mendapat syahadah seperti yang telah dijanjikan oleh Allah.
Pada saat itu beliau berada di Front Zafidufitisya. Pada Front tersebut terdapat
sebuah Gunung yang memanjang di atas kota. Serbia hendak memecah belahkan kaum
muslimin dari atasnya. Kemudian tentara Bosnia pun ingin mendaki puncak gunung
tersebut untuk mengembalikan kota tersebut dari koyakan Serbia yang selama ini telah
terkoyak separo.
Para mujahidin arab memasuki medan perang dan dibagi menjadi beberapa
kelompok dan mereka bersiap-siap untuk mengadakan perang.
Adalah Abbas Al Khaolani dan Abu Ali Al Bahroini dan Abu Yasir Al Imaroti
berada dalam satu kelompok. Dengan izin Allah keduanya sampai dan dapat menduduki
puncak gunung yang telah dikuasai Serbia, akan tetapi disana ada parit yang dibangun
oleh Serbia dan dijadikan sebagai perlindungan. Maka Abbas pun maju dan
menyerangnya, dan terbunuhlah beliau disana.
Tiba-tiba meluncurlah Roket anti Tank dan tepat mengenai kepada Abi Ali Al
Bahroini hingga beliau menemui syahadah. Dan tiba-tiba meluncur juga serangan Mortar
yang jatuh di samping Abu Yasir Al Imaroti hingga terbunuhlah beliau…..
Ketiga teman itu telah meninggalkan dunia setelah menempuh jalan jihad di
Afghanistan dan setelah menempuh kesulitan hingga bisa masuk ke bumi Bosnia
Herzegovina….. hingga akhirnya Allah menerima apa yang mereka persembahkan.
Kita bertemu pada rahmat Allah ……………….
IX. ABU ZAID AL HAJIRI AL QITRY
Abu Zaid Al Qitry seorang pemuda yang tinggal di Ri’an. Masa mudanya
dihabiskan bersama keluarganya di Qitr dan kota Ad Dauhah yang mencetak singa ini.
Bapaknya bekerja sebagai tentara di Qitr dengan menyandang pankat tinggi.
Ketika anaknya sudah berumur empat belas tahun, bapaknya mulai mengajak
anaknya bergabung dengan tentara Qitr, bapaknya menggabungkan anaknya dengan
tentara. Maka anak itu belajar sebisanya sesuai dengan tingkatan umurnya sampai umur
tujuh belas tahun.
Pada tahun itu terjadilah tragedy Bosnia Herzegovina dan berita itu telah tersebar
ke seluruh orang. Beliau terbang kesana untuk menolong saudara-saudaranya dengan
mengorbankan jiwa dan hartanya.
25
Abu Zaid mencari-cari berita dan berfikir bagaimana bisa menolong mereka.
Fikirannya menerawang membayangkan seandainya beliau termasuk orang yang
mengorbankan dirinya untuk menolong dan mengangkat kemuliaan Dien mereka atas
darah dan tulang belulang mereka, sampai pada akhirnya Allah berkehendak
mempertemukan beliau dengan keempat pemuda Qitr. Mereka adalah Abu Muhammad,
Abu Mus’ab dan Abu Mu’ad. Mereka bertekad untuk berangkat ke Bosnia dan menolong
saudara-saudara mereka disana. Mereka bertemu dengan Abu Sholih Al Qitri, Abu Mu’ad
Al Qitri, Abu Kholid Al Qitri – semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka
semua -.
Benar ….. para pahlawan itu bergerak ke Bosnia dan bersama mereka saudara kita
Abu Zaid rohiamhullah. Mereka hadapi semua kesulitan dan kepayahan. Mereka
tinggalkan dunia dan gemerlapnya, keindahannya dan kemegahannya di belakang
punggung mereka dan mereka selalu bercita-cita untuk mendapatkan syahadah.
Mereka telah sampai di Bosnia dan bergabung dengan pasukan mujahidin. Setelah
berlalu beberapa bulan salah seorang teman mereka tadzrib ada yang ingin kembali
pulang ke keluarganya di Qitr. Akan tetapi setelah berfikir panjang dan mengingat
kembali cita-cita untuk mendapatkan syahadah maka ia menetapkan untuk tinggal disana
dan tidak akan kembali pulang ke Qitr.
Benar ….. beliau pun meninggalkan teman-temannya – yang ada di Qitr – dan
mengokohkan tekad untuk menetap disana.
Pada musim dingin di tahun 1414 H. mujahidin turun dari parit-parit penjagaan
menuju barisan belakang untuk beristirahat selama sebulan penuh, karena pada bulan ini
saljunya sangat tebal.
Di baris belakang para mujahidin berkumpul di sebuah madrasah milik orang-orang
Bosnia. Di tempat inilah tampak sifat-sifat orang yang mendapat syahadah pada diri
saudara kita – Abi Zaid Al Qitri -, seperti, sikap tawadhu’, mementingkan kepentingan
saudaranya, beliau selalu menjadi petugas yang membagi-bagikan makanan kepada
mujahidin, dan beliau tidak makan kecuai setelah semua mujahidin sudah mendapat
makanan semua lalu beliau memakan sisa-sisa makanan yang ada dari mujahidin.
Jiwanya begitu mulia, beliau dicintai para pemuda disana dan dihormati oleh mereka.
Pada malam hari beliau tidak pernah melewatkan sholat malam dalam kekhusyuan dan
kerendahan hati di depan Robnya. Dan pada siang hari beliau selalu puasa daud – sehari
puasa sehari berbuka -.
Setelah berlalu musim dingin bergeraklah para mujahidin menuju Front untuk
berjaga.
Pada suatu hari ketika beliau sedang jaga waktu itu cuaca langit sangat cerah dan
salju memenuhi bumi dan pada malam hari itu komandan pasukan sedang mengadakan
kontrol di parit-parit penjagaan, maka komandan itu menyaksikan Abu Zaid seorang diri
sedang memandangi langit dengan pandangan tajam. Lalu komandan itu memanggil
beliau : “ Wahai Abu Zaid ….. Abu Zaid ….. Abu Zaid ….. beliau tidak menoleh kepada
komandan hingga komandan itu mendekati beliau dan menggerakkan beliau dan berkata :
“ Ada apa denganmu ? “. Beliau menjawab : “ Tidak ada apa-apa “. Komandan itu berkata
lagi : “ Demi Allah engkau harus bercerita kepadaku “. Beliau berkata : “ Demi Allah !
Aku telah melihat langit seakan-akan langit itu terbuka dan pada saat itu muncullah
seorang perempuan yang sangat cantik sekali yang belum pernah aku lihat dalam
hidupku, ia lambaikan tangannya kepadaku dan memberikan salam kepadaku “.
Komandan menyudahi cerita itu dan keduanya lalu berjaga bersama.
Peperangan al Fath Al Mubin telah dekat, para singa Allah bersiap-siap untuk
menyambut peperangan ini dengan gembira dan bahagia. Peperangan itulah yang disebutsebut
dengan “ Pengalaman militer “. – karena – front tersebut tidak akan dapat
26
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
dimenangkan kecuali dengan menggunakan pesawat terbang. Tentara Bosnia telah
mencobanya berkali-kali untuk menaklukan daerah itu – namun belum juga bisa
ditaklukkan -.
Mujahidin bergerak maju menuju daerah itu dan setiap mujahidin
menyenandungkan bait-bait syair :
“ Akan aku bawa ruhku menuju peristirahatanku
Dan aku bawa ruhku menuju jurang kematian “.
Setiap mujahid bercita-cita mendapatkan syahadah dengan jujur di dalam hatinya
setelah terlebih dahulu banyak membunuh musah-musuh Allah Serbia dan menimpakan
siksaan kepada mereka di dunia sebelum mereka rasakan di akhirat kelak.
Ketika dimulai peperangan dan meningilah suara takbir, gugurlah saudara kita Abu
Zaid Al Qitri sebagai syuhada’ – semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada beliau –
dalam kondisi berhadapan dengan lawan bukan membelakangi – lari -. Dan kita tidak
mensucikan seseorang atas Allah. Beliau gugur sebagai pahlawan pemberani.
Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada sang pahlawan yang masih muda
umurnya, akan tetapi besar amalnya. Beliau pada saat itu baru berumur tujuh belas tahun.
Selamat tinggal wahai Abu Zaid. Insya Allah kita berjumpa kembali di Jannah
27
X. HISYAM AL QUSYAIRI
(DAGESTAN)
Selamat berbahagia wahai sang pahlawan pemberani ….. engkau telah merasakan
keberuntungan dengan mendapatkan kebaikan yang tidak dirasakan oleh manusia…..
seakan-akan aku ikut merasakan – apa yang kamu rasakan – berada dalam Jannah yang
kekal yang engkau usahakan ….. bersamamu para Bidadari wahai Hisyam.
Hisyam Al Qusyairi ….. Abu Muhammad Al Qonnash ….. beliau dari penduduk
kota Riyadh, lahir dari keluarga baik-baik. Beliau diberi petunjuk oleh Allah disaat
kemenangan Kabul pada tahun 1992 kemudian beliau menetapkan untuk berangkat
berjihad.
Benar … beliau terbang ke sana, kemudian beliau melakukan I’dad di sana lalu
kembali pulang ke Saudi setelah beberapa masa tinggal disana. Kemudian berubahlah
kondisinya, melemahlah Diennya, dan semakin jauh dari jalan – kebenaran -. Akan tetapi
Allah berkehendak menyelamatkan lelaki itu dan dikembalikan kepada jalan – yang benar
-. Kemudian bergemuruhlah di dalam jiwanya semangat jihad dan bangkitlah ingatannya,
maka tiada hari-harinya kecuali dipergunakan untuk pergi ke bumi mana saja yang disana
ada jihad. Kemudian beliau menetapkan untuk pergi ke Cechnya, dan itu sebelum
peperangan kedua pada tujuh bulan lalu. Beliau ribath disana dan meningkatkan
keimanannya.
Beliau mengadakan perjalanan ke Rusia bersama dengan salah seorang temannya
yang sama-sama dari Saudi juga. Keduanya diberikan Visa oleh – negara – Rusia untuk
pergi ke dua kota saja, kedua kota itu adalah Moscow dan Bitrusyerog. Keduanya lalu
menghubungi mujahidin yang ada di Cechnya kemudian mijahidin menunjukkan jalan
kepada keduanya. Keduanya naik Kereta api dan kendaraan apa saja yang dapat
mengantarkan keduanya kesana, hinga keduanya sampai ke Nazran kota perbatasan
dimana keduanya ditahan oleh Rusia karena tidak mempunyai Visa.
Hisyam dapat berbicara dengan bahasa Ingris, lalu didatangkan kepadanya seorang
introgrator, maka introgator itu menengarai keduanya adalah para bisnismen yang datang
dari Cechnya kesini untuk mensurvei barang dagangan yang ada disini.
Akhirnya keduanya kembali dengan pesawat terbang menuju Moscow, dari sana
keduanya baru menghubungi mujahidin di cechnya dan kedunya menghabari tentang
kondisi mereka. Lalu mujahidin mengutus seorang ikhwah Palestina yang tinggal disana
untuk mengantar mereka ke Cechnya.
Benar ikhwah Palestina itu mengantar keduanya ke Chechnya, ikhwah itu mengatur
perjalanan keduanya. Mereka berangkat ke Bandara dengan mengendarai Taksi, dan
cuaca pada saat itu sangat gelap.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang di belakang mereka, lalu
memberhentikan sopir taksi, mereka mengeluarkan para pemuda dari dalam taksi dan
melepas pakaian mereka lalu memukulinya dengan kuat.
Karena kuatnya pukulan mereka hingga patahlah tangan dan kaki ikhwan itu,
wajahnya memar-memar, lalu uang, perbekalan dan paspornya dicuri juga …..??? dan
mereka ditinggalkan di tanah lapang, hingga Hisyam menyangka bahwa sebentar lagi ia
akan ditembak … ya… sebentar lagi ….. sekarang ….. begitulah perasaan yang
bergemuruh dalam dadanya.
Sebagian merayap mendekati yang lain, dan mereka saling melepaskan ikatan
mereka dengan gigi masing-masing.
Pada saat itu Hisyam pulang dengan tanpa membawa paspor dan uang, akan tetapi
dengan taqdir Allah baliau dapat berfikir cerdik, ternyata beliau masih menyimpan
beberapa uang dolar di bawah ikat pinggang celananya.
28
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Kemudian keduanya pergi ke Kedutaan dan keduanya hendak dipulangkan ke
Saudi- oleh kedutaan-. Akan tetapi teman kita ini tidak ingin pulang ke Saudi, bahkan ia
kembali dan pergi ke Azebaijan dan beribath disana hingga mendapat jalan menuju
Chechnya melalui Dagestan.
Benar ….. Allah berkehendak kepadanya dan temannya selain temannya
menemaninya pertama kali untuk bisa mendapatkan Visa ke Rusia, tidak hanya dapat
pergi ke dua kota saja – akan tetapi bisa ebih dari dua kota. Adapun panjangnya masa ia
serahkan kepada Allah, dan beliau ingin masuk ke Cheechnya dan tidak ingin keluar lagi
hingga Allah memudahkan baginya dapat masuk ke Chechnya. Semua kejadian ini terjadi
sebelum pecah peperangan ke dua.
Sungguh ia tidak dapat menggambarkan rasa kegembiraan dan kebahagiaannya,
dan beliau sangat bersemangat disana.
Tidak sampai empat bulan beliau tinggal disana pecahlah peperangan di Dagestan,
ini adalah pertama kali peperangan yang beliau alami disana. Beliau berperang
sebagaimana perangnya seorang pahlawan pemberani.
Tiba-tiba terdengar raungan Helikopter dan berdatanganlah Helikopter dari
berbagai penjuru- mendekati beliau -.
Beliau pergi bersama seorang temannya “ Luyai “ untuk berlindung dari Helikopter
di bawah rumah yang terbuat dari tanah liat yang telah runtuh. Tiba-tiba meluncurlah
tembakan roket dari Helikopter, maka pada saat itulah janji Allah tiba, dan keluarlah
ruhnya yang suci – sebagai syahid -.
Semoga Allah merahmatimu wahai Hisyam. Sungguh engkau telah mencari jihad,
dan engkau pun banyak diuji tidak cuman sekali – dalam perjalan jihadmu -. Akan tetapi
engkau tetap tegar dalam ujian itu hingga Allah menemukan engkau dengan Jannah insya
Allah.
Selamat tinggal wahai Hisyam ……………………
29
XI. MUKHOLLID AL ‘UTAIBI
ABU ABDURROHMAN AL KUWAITI
Salah seorang salaf ada yang berkata : “ Demi Allah sesungguhnya kita akan
menyaksikan para lelaki, kita mencintai mereka karena Allah, maka bertambahlah
keteguhan dan keimanan kita dengan melihat mereka berhari-hari “.
Saudara kita Abu Abdurrohman – semoga Allah merahmatinya – termasuk salah
satu dari para lelaki itu, dan kita tidak mensucikan seseorang atas Allah.
Beliau berwibawa, wajahnya memancarkan cahaya yang cerah. bentuk mukanya
tidak berbeda dengan salah seorang teman beliau yaitu Abu Mu’ad Al Kuwaiti – semoga
Allah merahmatinya -.
Beliau mendengar kabar jihad di bumi Bosnia Herzegovina, maka beliaupun
mencari-cari kabar dan bertanya-tanya jalan menuju sana untuk menolong saudarasaudaranya
orang Bosnia di negeri mereka. Beliau korbankan jiwanya yang suci itu
dengan murah fie sabilillah dan beliau jual di pasar Allah. Karena Allah berfirman :
اِنّ الَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنّ لَهُمُ الْجََنّةَ
“ Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa-jiwa mereka dan
harta benda mereka dengan Jannah “. (QS. At Taubah : 111)
Sampailah beliau ke Bosnia Herzegovina pada awal bulan ya’ban pada tahun 1415
H. dan bergabung dengan pasukan mujahidin. Beliau adalah seorang lelaki yang
berakhlak mulia dalam pergaulan dan selalu mementingkan keperluan orang lain, selalu
besikap merendah kepada saudara-saudaranya seiman.
Jikalau engkau tanyakan tentang amalan ibadahnya maka beliau adalah seorang
yang tidak pernah meninggalkan sholat malam. Jikalau engkau tanyakan tentang
puasanya maka beliau tidak pernah meningalkan puasa senin dan kamis, dan beliau
mengikuti amaliyat di Gunung Falasij yang disitulah saudara kita Abu Abdullah As
Syarqi terbunuh – semoga Allah merahmatinya -. Dan setelah itu beliau pun mengikuti
peperangan-peperangan yang terjadi di sekitar kota Turofinik.
Pada salah satu peperangan di malam Arofah pada tahun 1415 H. kepala dan
pundak beliau terluka dan beliau sangat bergembira sekali dengan luka tersebut, karena
itu adalah setempel syahadah dan janji yang telah disabdakan oleh nabi shollallahu ‘alaihi
wasallam :
مَامِنمْ مَكْلُوممٍ يُكْلَممُ فيِ سمَبِيْلِ ال وَال أَعْلَممُ بِمَنمْ يُكْلَممُ فيِ سمَبِيْلِهِ إِلّ أَتىَ يَوْممَ
الْقِيَامَةِ وَكَلْمُهُ يَدْمِي الرّيْحُ رِيْحُ الْمِسْكِ وَاللّوْنُ لَوْنُ الدّمّ
“ Tidaklah orang yang terluka fie sabilillah wallahu a’lam siapa saja yang terluka
di jalan-Nya kecuali besok – ketika – datang pada hari kiamat maka lukanya tetap
berdarah, aromanya bau misk dan warnanya tetap warna darah “.
Beliau sampai di Misywaroh di negeri Al Balqon sampai selesai perang disana
kemudian beliau kembali pulang ke Kuwait, setelah beberapa masa beliau mendengar
kabar tragedi yang terjadi di Chechnya, dan teman-temannya kaum muslimin meminta
beliau untuk menolong mereka. Maka beliaupun menyiapkan diri berangkat untuk
membela saudara-saudaranya dan kehormatan kaum muslimin di negeri itu.
Setelah berusaha keras beliau pun dapat masuk Chechnya dua bulan sebelum
perang kedua pecah. Komandan yang terkenal disitu adalah Ibnul Khottob bersama
kelompoknya yang telah tinggal lama di bumi Dagestan, maka Rusia dapat mengepung
Ibnul Khottob bersama kelompoknya dan menyeru Ibnul Khottob dan kelompoknya
untuk menyerahkan diri kepada Rusia.
30
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Ketika mereka sedang dikepung oleh Rusia maka majulah wakil Ibnul Khottob
yang bernama Hakim Al Madani – semoga Allah merahmati beliau -, dan wakilnya
adalah Abu Abdurrohman, mereka maju memerangi Rusia sebagaimana perangnya para
pahlawan pemberani hingga mereka dapat membuka batasan dari musuh untuk dapat
dilewati Khottob dan kelompoknya untuk keluar dari kepungan.
Ketika Hakim Al Madani dan kelompoknya berkehendak kembali ke Gunung
Chechnya maka pada saat itu orang-orang Rusia sedang bersembunyi di puncak Gunung
lalu menyerang mereka dengan cepat, maka terjadilah peperangan yang sengit.
Akhir peperangan dimenangkan oleh tentara Allah atas musuhnya, dan Hakim Al
Madani memutuskan untuk menyingkirkan orang-orang Rusia yang terbunuh. Ternyata
dianta yang terbunh masih ada seorang yang belum mati. Ketika Hakim Al Madani
menjauh darinya karena disangka sudah mati orang jelek – Rusia – itu menembakkan
pelurunya ke punggung Hakim Al Madani maka terbunuhlah beliau. Kemudian para
pemuda – anak buah Hakim al Madani – menghabisi orang Rusia itu. Kemudian setelah
itu kepemimpinan diserahkan kepada Abu Abdurrohman dan beliau melanjutkan maju
menuju puncak Gunung. Maka ketika itu meluncurlah peluru Roket yang tepat mengenai
kepala beliau hingga gugurlah beliau seketika itu. Begitulah – pemuda – Kuwait
pemberani ini maju – semoga Allah merahmatinya – maka hilanglah salah satu putra
terbaik Kuwait – yaitu Abu Abdurrohman -. Dan beliau telah ditempatkan oleh Allah di
dalam Jannah dan Allah memberikan ganti pada ummat ini yang lebih baik dari beliau.
Sungguh beliau telah mendapatkan syahadah dan beliau telah begembira dengan
syahadah itu dan beliau telah berjumpa dengan teman sejalannya Abu Muhammad Al
Kuwaiti – semoga Allah merahmatinya -.
XII. SAMIR ATS TSABITI
Beliau adalah salah seorang pemuda dari Thoif, sebuah kota tenang yang telah
mengeluarkan pahlawan ini. Pada awal masa mudanya ia termasuk pemuda yang
bergelimang dengan maksiyat dan lalai dari Allah sampai Allah mempertemukan beliau
dengan orang yang menasehati beliau dengan untaian kalimat yang mudah difahami. –
Lihatlah ! Apakah orang yang menasehati itu menyangka kalau orang yang dinasehati itu
akan menjadi seorang lelaki seperti yang ia kehendaki dan menjadi lelaki yang mau
mengorbankan dirinya fie sabilillah ? semua pahala akan menjadi kebaikan dan sampai
31
kepada orang yang mendakwahinya dan itu adalah karunia yang Allah berikan kepada
hamba-Nya yang dikehendaki –
Ternyata lelaki itu benar-benar menghentikan kebiasaan buruknya dan
meninggalkan semua temannya dimasa lalu dan sekarang umurnya sembilan belas tahun.
Sebelum ia meninggalkan teman-temannya beliau menyampaikan perkataan untuk yang
pertama dan yang terakhir kalinya.
Lelaki itu mempunyai kehebatan dan tidak mempunyai rasa takut – pemberani -,.
Beliau memulai membuka-buka kitab dan bertanya kepada para ulama tentang amalan
yang paling utama. Maka para ulama itu menjawab bahwa amalan yang paling utama
adalah Jihad fie sabilillah. Maka setelah mendengar jawaban itu beliau segera berserikat
dengan saudara-saudaranya dalam jihad di bumi Bosnia Herzegovina.
Benar ….. beliau pun pergi ke Bosnia, hatinya bergembira hingga hampir terbang
rohnya karena sangat gembira dan dapat sampai di Bosnia dan bergabung dengan para
mujahidin disana. Beiau orangnya tenang dan mempunyi kehebatan sehingga dicintai
oleh teman-temannya, beliau berotak jenius dan pemberani.
Setelah berlalu sembilan bulan beliau dipilih oleh Mu’taz untuk mengkoordinir
satu kelompok untuk mengawasinya dan dipasrahi untuk menjadi komandan pada
kelompok tersebut dalam peperangan Al Fath Al Mubin hingga peperangan usai di Bosnia
Herzgovina. Kemudian setelah itu beliau pulang.
Ketika pulang beliau mendengar kabar bahwa kaum muslimin di Kosovo sedang
terbantai, maka beliau terbang ke sana untuk menolong saudara-saudaranya.
Celakalah Serbia, ternyata ada seorang lelaki yang mengenali mereka dan mereka
pun mengenalinya telah datang bergabung dengan para mujahidin Kosovo – beliau
adalah Samir Ats Tsabiti -. Beliau bertempur dengan gagah berani disana hingga naiklah
pamor beliau dan tinggi kedudukannya dikalangan orang-orang Kosovo. Di sebuah
daerah beliau memimpin satu kelompok untuk menyerbu jendral Serbia yang tinggal di
dekat daerah itu yang berhadapan dengan barisan kaum muslimin. Jendral Serbia ini telah
membantai kaum muslimin, membakar tempat tingal mereka, kampung halaman mereka
dan menumpahkan darah mereka, sehingga tersebar kabar tentang keradikalan jendral
Serbia tersebut.
Abu Mus’ab rohimahullah merenung cukup lama, kemudian beliau berkata kepada
orang-orang Kosovo : “ Siapa yang mau berjanji setia kepadaku untuk membunuh jendral
“, maka sebagian mereka pun menyatakan janji setia kepada beliau.
Benar ….. Singa pahlawan ini maju menyerang bersama sebagian mujahidin yang
telah mengikat janji setia kepada beliau untuk masuk menyerbu bumi Serbia dan masuk
ke rumah jendral tersebut. Terjadilah peperangan kecil dan Abu Mus’ab – Samir Ats
Tsabiti – dapat masuk ke dalam rumah jendral tersebut. Beliau menghunus pisaunya dan
menghujamkannya kepada jendral tersebut, kemudian kepalanya beliau penggal lalu
rumahnya ditutup kembali dan beliau kembali lagi bersama-sama mujahidin.
Kaum muslimin merasa lega dari kejelekan jendral Serbia itu dan mereka takut
kalau terjadi lagi seperti ini.
Kamu lihat apakah saudara kita – Samir Ats Tsabiti – yang dahulunya lalai itu akan
dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan ini ? berapa banyak dari para lelaki
yang membutuhkan dakwah – seperti beliau -. Kewibawaan Abu Mus’ab semakin naik
dikalangan penduduk dan mereka memuliakan beliau dan meninggikan kedudukannya
hingga berakhirlah perang di Kosovo. Kemudian menyalalah peperangan di Chechnya
dan beliau pun menyiapkan diri untuk berangkat ke sana dan menolong saudarasaudaranya
dalam rangka mencari keridhoan dari Robnya dan mencari syahadah di jalan-
Nya.
32
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
Benar ….. beliau pergi ke Chechnya dan turun di Giorgia, akan tertapi orang-orang
Giorgia tidak mengizinkannya masuk ke negeri itu, mereka menghalangi beliau masuk
Hotel. kemudian beliau memutar otak untuk dapat masuk ke Checnya, lalu beliau kabur
dan mencari orang yang dapat mengantarkan beliau masuk ke Checnya. Akhirnya
beliaupun dapat masuk ke bumi Chechnya dan bisa bergabung dengan para mujhaidin di
sana.
Melihat kedatangan beliau, Ibnul Khottob tampak gembira dan memberikan tugas
kepada beliau untuk menjadi komandan salah satu kelompok mujahidin, karena
dilihatnya beliau mampu dalam hal itu.
Kisahnya beliau di Chechnya lihai dalam menembak dengan senjata Mortar. Pada
suatu hari beliau berada di puncak Gunung dan di bawah ia melihat tentara Rusia sedang
mengadakan parade kekuatan, mereka ingin membuat muasykar – pangkalan militer –
disitu dan ia perkirakan bahwa tempat itu tidak terjangkau oleh serangan senjata
mujahidin.
Pada hari berikutnya orang-orang Rusia sedang menyusun kekuatan – untuk
menyerang mujahidin -, mereka memakai baju besi , menyiapkan alat pelempar dan
perlengkapan lainnya.
Singa Abu Mus’ab sudah mengintai mereka, lalu setelah itu beliau obrak-abrik
seluruh kepentingan mereka, setiap tembakan roket yang dilancarkan beliau tidak ada
yang meleset dari sasaran dan beliaupun dapat menghancurkan sebuah Helikopter mereka
dan beberapa persenjataan perang mereka dan tentaranya banyak yang terbunuh pula,
sehingga mereka lari tunggang-langgang meninggalkan daerah yang mereka duduki
tersebut.
Adapun kunyah – sebutan – bagi Samir Ats Tsabiti di Chechnya adalah Abu Dzar
At Thoifi.
Adapun kisah terbunuhnya beliau adalah, suatu ketika beliau dan kelompoknya
menyisir daerah di pedesaan yang beliau singgahi, ternyata beliau dapati disana ada
ranjau yang dipasang oleh Rusia, maka beliau pun ingin membersihkan ranjau itu. Maka
beliau menjinakkan salah satu ranjau itu, akan tetapi ketika beliau memegang rangjau itu
meledaklah ranjau tersebut dan gugurlah beliau pada saat itu juga. Maka beliau pun
kembali kepada Kasih Sayang Allah insya Allah dan beliau telah sampai di Jannah dan
sungai, berada di tempat yang disenangi di sisi – Rob – yang Maha Berkuasa.
Ada cerita yang aneh yang menjelaskan akan kedekatan hubungan beliau dengan
Allah. Yaitu ketika beliau mendengar tragedi yang menimpa saudara-saudaranya kaum
msulimin di Kosovo beliau langsung pergi ke sana, dan beliau berusaha dengan keras
untuk bisa masuk ke daerah Kosovo hingga akhirnya beliau dapat masuk, beliau diantar
oleh seorang sopir Taksi dari negeri yang berdekatan dengan Kosovo, maka ketika
diperjalanan kendaraan yang dinaiki beliau diberhentikan oleh tentara Serbia dan mereka
menyuruh sopir untuk menyerahkan beliau kepada mereka untuk masuk ke garis depan.
Maka keluarlah sopir taksi dari mobilnya dan Abu Mus’ab pun berdiri sementara taksi di
parkir. Polisi tersebut meminta uang kepada sopir taksi dengan paksa, sopir taksi itu pun
menolak sementara perjalanan sudah dengan kampung yang dituju. Polisi Serbia mencaricari
kesalahan kedua orang ini, dan mereka menahan keduanya di daerah tersebut dengan
paksa. Pada saat itu anjing-anjing polisi disebar disemua tempat.
Dalam kondisi seperti itu Abu Mus’ab menengadahkan tangannya dan berdo’a
kepada Allah dengan sungguh-sungguh : “ Ya Allah ! Jikalau Engkau lepaskan aku dari
kondisi ini sungguh aku akan berjihad di jalan-Mu dengan sungguh-sungguh “. Maka
setelah mendengar do’a Abu Mus’ab Allah pun mengabulkan do’anya. Kemudian Allah
membutakan penglihatan tentara Serbia sehinga beliau dan seorang penunjuk jalan bisa
kabur hingga sampai di perbatasan Albania, mereka tidak melihat keduanya kabur. Tapi
33
ternyata ada seorang Serbia penjaga perbatasan yang melihat mereka berdua lalu ia
tembak keduanya, maka gugurlah si penunjuk jalan dan tinggallah beliau sebatang kara.
Dengan rahmat Allah beliau bertemu dengan mujahidin. Kisah ini menunjukkan benarnya
sabda rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :
تَضَمّنمَ ال لِلْمُجَاهِدِ ف يِ سمَبِيْلِهِ إِذَا خَرَجمَ لَ يَخْرُجُهمُ إِلّ جِهَادًا ف يِ سمَبِيْلِهِ أَنمْ
يَرْزِقَهُ الشّهَادَةَ أَوْ يَرْجِعَهُ إِلَى بَيْتِهِ الّذِي خَرَجَ مِنْهُ بِمَا نَالَ مِنَ اْلَجْرِ وَالْغَنِيْمَةِ….
“ Allah menjamin bagi orang yang berjihad – mujahid – di jalan-Nya. Jika ia keluar
maka tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali untuk tujuan jihad di jalan-Nya agar
diberi syahadah atau dikembalikan ke rumahnya yang ia keluar darinya dengan
mendapatkan pahala dan ghonimah – harta rampasan – “.
Negeri Bosnia Herzegovina tidak akan melupakan kepahlawanmu disana, dan
Kosovo pun tidak dapat melupakan perjuanganmu, dan Chechnya pun tidak akan pernah
melupakan perngorbananmu disana. Semoga Allah mengganti untuk ummat ini orang
yang lebih baik darimu. Semoga Allah merahmatimu dan menempatkanmu di Jannah
Firdaus Al A’la
XIII. ABU HAFS AL KUWAITI
(HAMAD AS SULAIMAN)
Aku tinggalkan kalian dengan cucuran air mataku yang berderai ……………
Aku tinggalkan kalian, padahal kalian adalah penyejuk mataku…..
Abu Hafs Al Kuwaiti….. Hamad As Sulaiman. Berasal dari negara Kuwait, dari
negeri yang mulia bagi kita.
Abu Mu’adz Al Kuwaiti, Abu Abdurrohman Al Kuwaiti… dan selain mereka dari
para pahlawan yang datang dari negeri Kuwait.
Tidak seperti kebiasaanku dalam menyampaikan cerita-cerita para syuhada’, maka
akan aku mulai dengan mengkisahkan lelaki yang agung ini.
Kulit beliau coklat dan hati beliau putih besih, tubuhnya ramping, kokoh dalam
membela al haq – kebenaran -. Engkau akan saksikan mukanya terdapat guratan
kesedihan, aku mengenalnya ketika berada di bumi Bosnia Herzegovina, dan pada waktu
di Afghanistan aku belum mengenal beliau.
Sebelum menyebutkan tentang kiprah beliau di kancah jihad maka kami mulai
menyebutkan biografi kehidupannya.
Beliau anak pertengahan diantara saudara-saudaranya, beliau lahir dari keluarga
baik-baik, bapaknya seorang lelaki sholih, bapaknya telah mengiringinya dan
mendidiknya untuk meninggalkan kehidupan dunia. Dikarenakan sakit maka akhirnya
bapaknya meninggal di Rumah Sakit Al Mania di Saudi dan beliau ridho dengan anak
lelakinya ini.
Abu Hafs menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas di Amerika dan beliau
mengambil jurusan spesialis Komputer. Semua saudara-saudaranya sekolah di Amerika.
Akan tetapi kuliah beliau belum selesai dan beliau sudah bergabung dengan para
mujahidin di Afghanistan dan datang ke sana pada tahun 1988 M. menuju daerah Jojy
34
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
yang sangat terkenal dalam sejarah. Sampai Allah mengeluarkan Rusia dari negeri itu
kemudian beliau keluar lagi ke Kuwait ketika terjadinya perang Irak. Seusai perang Irak
terjadilah tragedi Bosnia Herzegovina dan beliau termasuk orang yang datang terdahulu
ke bumi – Bosnia – yang pernuh berkah itu.
Beliau pergi kesana dengan salah seorang temannya dari Kuwait juga melalui
sebuah Yayasan. Mereka mempunyai misi dalam dakwah dan mereka ikut serta saudarasaudara
mereka dalam peperangan kapan saja ada kesempatan perang. Beliau dan seorang
temannya menetap di salah satu posko Bosnia yang disana terdapat kegiatan-kegiatan
orang Rofidhoh – Syi’ah – yang sangat kuat yang datang dari Iran. keduanya – Abu hafs
dan temannya- mengadakan kegiatan-kegiatan hingga terusirlah mereka – orang-orang
syi’ah – dari kota itu. Setelah itu beliau kembali ke Kuwait untuk menyelesaikan amanah
beliau di Yayasan Khoiriyah ini dan menitipkan keluarganya lalu kembali lagi ke bumi
Bosnia dan bergabung dengan para mujahidin di daerah Kalisia di Tuzla.
Beliau seperti seorang ibu yang penyayang bagi para mujahidin dan beliau sangat
lihai dalam berbahasa inggris, begitu juga bahasa Bosnia dengan logat fasih. Beliau
menjadi da’I di daerah tersebut dan menjadi pengajar disana. Jika beliau sedang menjadi
da’I maka beliau seperti singa yang keras terhadap orang-orang kafir Serbia. Karena
beliau ingin merealisasikan firman Allah ‘Azza wa Jalla :
اَذِلّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
“ Bersikap lemah lembut kepada orang-orang mukmin dan bersikap keras kepada
orang-orang kafir “. (QS. Al Fath : 29).
Beliau bersama-sama mujahidin disana dan beliau terjun dalam kancah peperangan.
Tampak darinya sifat-sifat pemberani dan selalu mendahulukan kepentiangan saudarasaudaranya
dan selalu mendahulukan mereka di depan.
Allah telah memuliakan aku bisa masuk bersama beliau pada peperangan di Badar
Bosnia ( pada saat itu dishoting di kaset Vidio). Aku saksikan sendiri beliau adalah
seorang pemberani dan selalu paling depan dalam medan jihad. Amaliyat pada saat itu
berada pada sebuah daerah yang besar yang mencakup 52 desa. Daerah tersebut disebut
dengan Fuzutisya. Kami menyerbu Serbia bersama datangnya fajar dan menghantam
mereka dengan pukulan yang kuat. Peperangan selesai dengan gemilang seperti biasa
dengan izin Allah. Dan ketika kami menyerbu mereka ternyata Abu Hafs sedang
menghadapi mereka. Beliau menawan salah seorang dari tentara Serbia setelah
melukainya dan memotong kepalanya lalu diangkat untuk ditunjukkan kepada kami
sambil beliau tersenyum dengan karomah yang Allah berikan kepada beliau.
Allah telah memberikan karomah kepada beliau dengan banyak membunuh babibabi
Serbia dan kami berada dibelakang beliau menyaksikan keberaniannya. Kami
berlindung dari kerasnya goncangan dan kami mengaguminya karena beliau selalu
menyerbu dan menyerang mereka.
Telah habislah medan perang di Bosnia dan berakhirlah perang disana, maka ketika
itu beliau linglung seakan-akan seperti orang yang kehilangan potensi. Aku melihat beliau
dan matanya berkaca-kaca berwarna merah, wajahnya kelihatan murung dan sedih
sampai aku menyangka bahwa keluarga beliau telah mati semua.
Beliau bekata kepadaku : “ Wahai Abu Fulan ! Peperangan telah usai dan para
syuhada telah pergi menuju Jannah dan kita tinggal dengan dosa-dosa kita di dunia “.
Aku mencoba menghibur dan membahagiakan beliau, akan tetapi kesedihan itu tidak
hilang dari beliau bahkan beliau tidak mau kembali lagi ke Kuwait. Sebelumnya beliau
pergi ke Checnhya pada saat terjadi peperangan pertama sampai di perbatasannya dan
beliau ditawan disana dan beliau tinggal disana beberapa bulan sampai Allah
membebaskan beliau, kemudian beliau kembali lagi ke Bosnia dan tinggal di Bosnia. Di
35
Bosnia beliau menikah dengan seorang wanita sholihah asli Bosnia dan be ribat di bumi
itu.
Setelah beberapa masa menikah beliau pulang ke Kuwait. Pada saat di Kuwait
beliau ditawari untuk bekerjasama di IBM dengan diberi gaji seribu dinar, akan tetapi
tawaran itu beliau tolak. Aku tanyakan kepada beliau mengapa tawaran itu ditolak ?
beliau menjawab : “ Aku tidak ingin terikat dengan suatu janji, karena aku ingin setiap
ada seruan untuk berjihad aku pergi ke medan jihad itu dengan tidak mempunyai ikatan
dan perjanjian “.
Peperangan Chechnya kedua dimulai, beliau mencoba berkali-kali untuk bisa
masuk ke sana, akan tetapi Allah belum menghendaki beliau untuk sampai ke sana.
Beliau sering sekali mengunjungiku, beliau sangat merasakan kesedihan dalam hidupnya
seakan-akan hilanglah potensinya. Amerika memulai membuat ulah dengan menggempur
Afghanistan, setelah itu beliau menghubungi saya dan berkata : “ Wahai Hamad ! Allah
menitipkan sesuatu kepadamu yang tidak akan hilang titipan-Nya itu “. Aku balas
bertanya : “ Kemana engkau hendak pergi berjihad ? “. Beliau menjawab : “ Ke
Afghanistan untuk menolong saudara-saudaraku disana “. Wahai Hamad ! Aku sudah
bosan hidup, aku ingin mencari syahadah “. Beliau selalu mengulang-ngulang
perkataannya sehingga hatiku merasakan kegundahan juga. Lalu aku katakan kepadanya
dengan bergurau : “ Engkau selalu mengatakan seperti itu kepadaku dan kamu pun pulang
lagi kepada kami ? !!! “. Beliau ketawa dan aku pun ketawa juga. Aku dan dia menangis
dalam kesedihan dengan tinggal diamnya kita disini.
Akhirnya beliau pun pergi ke Afghanistan…… di malam hari ‘Ied, Allah
menjadikan malam itu hari ‘Ied beliau – kembali – kepada Allah Subhanahu wa ta’ala –
mendapat syahadah -. Beliau terbunuh di Gunung Torabora dan pada saat itu beliau lagi
puasa dan sedang menunggu waktu berbuka.
Ya Allah ! Terimalah ia dan angkatlah derajatnya di sisi-Mu ya Allah.
Ya Allah ! Sesungguhnya nabi-Mu telah bersabda : “ Kalian adalah menjadi saksisaksi
Allah di dunia “. Ya Allah ! Sesungguhnya lelaki ini telah berperang dan
meninggalkan dunia berserta kenikmatannya untuk menjumpai-Mu…. Karena rindu
kepada-Mu dan meminta syahadah kepada-Mu…..
Ya Allah ! Berikanlah apa yang selama ini beliau minta kepada-Mu, dan
gabungkanlah kami dengan beliau Ya Arhamar Rohimin…..
Ya Allah ! Gantilah kesedihan dan kegundahannya ketika di dunia dengan
kebahagian dari-Mu dan sampaikanlah ia pada tempat yang Engkau janjikan untuknya…..
36
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
XIV. ABU USAID AL URDUNI
Abu Usaid Al Urduni… atau disebut juga Ibrahim As Syamri… beliau berasal dari
keluaga Bangsawan di Urdun – Yordania -. Dari suku asli arab. Beliau berada dalam
barisan tentara Urdun, beliau cukup lama berkerja di ketentaraan. Sebelumnya beliau
belum pernah pergi berjihad, baik itu ke Afghanistan, Bosnia dan selainnya.
Sudah maklum karena di Urdun terdapat sekelompok dari orang-orang Chechnya
yang hijrah ke Urdun karena buminya dijajah oleh orang-orang Soviet dan mereka terusir
ke Urdun.
Disana – Chechnya – terkenal dengan keberaniannya dan menjaga adat-istiadatnya
serta kepatuhan pada pemimpinnya. Adapun orang yang ditokohkan adalah yang mulia
syekh Fathi As Syisyani ( Abu Sayaf ) rohimahullah. Beliau – syekh Fathi – rohimahullah
termasuk dari orang yang ikut serta saudara-saudaranya berjihad di bumi Afghanistan.
Dan beliau termasuk dekat dengan komandan yang ada di Afghanistan. Setelah usai
peperangan di Afghanistan beliau pulang ke Urdun dan dari sana beliau pergi ke negeri
aslinya Chechnya.
Peperangan Checnya yang pertama dimulai pada tahun 1995 M. maka kabar
peperangan itu sampailah kepada singa kita Abu Usaid.
Kekuasaan Rusia yang dzolim pada kelompok – muslim – disana sangat
mencengkram, maka tergeraklah para pembela Islam dan melaju dengan kobaran
semangan mencari syahadah.
Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk ke Chechnya sebelum mujahid
Ibnul Khottob rohimahullah. Beliau sampai di sebuah desa yang bernama Syisan di
Chechnya, dan disanalah beliau ribat. Dan beliau bekeliling di bumi Chechnya untuk
mengenal jalan-jalannya, tanda-tandanya dan pegunungannya.
Setelah beberapa saat tinggal disana beliau menikah disana dan beliau bersamasama
dengan syekh Fathi As Syisani.
Pada waktu itu barulah sampai Khottob ke Chechnya dan berkumpul dengan para
komandan Chechnya.
Beliau bertemu dengan seorang komandan yaitu Khottob. Khottob banyak
mengambil pelajaran dari beliau dalam mengenal jalan-jalan dan daerah-daerah yang ada
di Chechnya. Begitu juga khottob juga banyak belajar dari pengalaman militernya pada
masa amaliyat beliau yang terdahulu di ketentaraan Urdun.
Hari-demi hari berlalu, kedua singa ini semakin hari bertambah keberaniannya dan
kemajuannya, bertambah pula pengorbanan dan kepahlawannya.
Beliau banyak ikut serta dengan Khottob dalam medan perang dan amaliyat.
Sampai ketika terjadi amaliyat di daerah Argun dan itu merupakan peperangan yang
menentukan dan dahsyat. Karena pada saat itu Rusia menggempur dengan mengerahkan
pasukan khususnya yang kuat – Omon -.
Disamping asrama mereka terdapat gudang yang dibangun oleh Abu Usaid, dan
disitu beliau ditemani seorang rekannya yang bernama Abu Hafs.
37
Beliau adalah seorang ahli pelempar roket. Sekali lemparan maka mengenai tepat
pada orang Rusia. Pada lemparan yang selanjutnya tidak dirasakan lagi oleh Rusia,
sehingga mereka bingung di dalam mengarahkan serangannya ke tempat – Abu Usaid -,
maka kemudian mereka pun mengarahkan tembakan tanknya ke tempat Abu Usaid.
Terpancarlah serpihan tank tersebut dan mengenai kepala Abu Usaid, maka pada saat itu
juga beliau tersungkur dan berkta : “ Ya Allah ! Milik-Mulah segala pujian ….. Ya Allah !
Milik-Mulah segala pujian….. ( kejadian ini dishoting dalam Vidio).
Semua orang menggotong beliau dan merasakan kesedihan mendalam melihat
kondisi beliau. Dan beliau selalu tersenyum dan mengulang-ulang peraktaannya : “ Ya
Allah ! Milik-Mulah segala pujian “.
Teman beliau Saifullah As Syisyani melihat beliau kemudian menangisi beliau, dan
ia menemani beliau ketika dibawa ke Rumah sakit.
Saifullah As Syisyani selalu menemani Usaid Al Urduni selama dirawat di Rumah
sakit, maka Khottob memerintahkannya untuk kembali ke medan perang karena ia
dibutuhkan disana.
Benar ….. beliau mencoba untuk melaksanakan semua perintah komandan, akan
tetapi pada saat ini beliau tidak bisa meninggalkan Usaid, maka dia mengharap kepada
Khottob untuk mengizinkannya menemani Usaid. Akan tetapi Khottob tidak
mengizinkannya menemani Usaid. Akhirnya dia kembali lagi ke medan perang dan
terkena tembakan lalu gugur.
Maka ia pun pasti akan bertemu dengan temannya Usaid di Jannah insya Allah.
Dan semoga Allah menerima arwah mereka.
Setelah kesyahidan Saifullah As Syisyani Abu Usaid dikarunia Allah dengan
lahirnya anak lelaki dari istrinya orang Chechnya, maka bayi itu diberi nama dengan
nama bapaknya.
Semoga Allah merahmati Ibrahim – Abu Usaid – dan menjadikan kebaikan bagi
istri dan anaknya ………..
38
Kisah Perjalanan Para Peminang Bidadari
KUPINANG ENGKAU DENGAN SYAHADAH
Wahai saudaraku ….
Andai kau tahu
Debu yang menempel pada kakimu fie sabilillah
Dapat menyelamatkanmu dari neraka Jahannam
Kenapa kau tinggalkan jihad ….. ???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau faham
Sekejap dalam medan jihad
Dapat mengharuskanmu menikmati kenikmatan
dan keindahan Jannatun Na’im
Kenapa memilih selain jihad ….. ???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau mengerti
Berak dan kencingnya kudamu fie sabilillah
Bernilai pahala bagimu disisi Robmu
Kenapa bimbang untuk berjihad ….. ???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau tahu
Timah panas yang mengoyak tubuhmu dapat menghantarkanmu memeluk mesra Bidadari
jelita
Kenapa takut berjihad ….. ???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau faham
Dentuman Bom yang mencabik-cabik dagingmu dapat menyibukkanmu bercanda ria di
pangkuan Bidadari jelita selama berpuluh-puluh tahun tanpa bosan
Kenapa ragu untuk berjihad …..???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau mengerti
Ledakan Mortir yang meremukkan tulang belulangmu dapat menghantarkanmu berbaring
mesra di atas kasur dalam kamar mempelai bersama bidadari yang tidak pernah
hilang keprawanannya
Kenapa enggan berjihad …..???!!!
Wahai saudaraku …..
Andai kau faham
39
Tetesan darah pertama yang kau tumpahkan di medan jihad dapat menghapuskan semua
dosa-dosamu
Tidak ada pilihan lain bagimu selain jihad …..???!!!
Duhai saudaraku …..
Seandainya engkau faham ……
Seandainya engkau mengerti ……
Seandainya engkau tahu …..
Seandainya engkau berakal …..
Engkau pasti memilih jihad …..
اَللّهُمّ أَحْيِنَا سُعَدَاءَ وَأَمِتْنَا شُهَدَاءَ وَاحْشَرْنَا بِزُمْرَةِ الْمُصْطَفَى صَلّى الُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ
“Ya Allah ! hidupkanlah kami dalam kemuliaan dan matikanlah kami dalam kesyahidan
dan kumpulkanlah kami dengan Almusthofa Shollallahu ‘alaihi wasallam”
اَللّهُمّ آتِنِيْ أَفْضَلَ مَا أَعْطَيْتَ عِبَادَكَ الصّالِحِيْنَ
“Ya Allah ! Berikanlah kepadaku keutamaan (mati syahid) sebagaimana yang telah
Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang sholih”
Penutup :
Alhamdulillah, dengan izin Allah kumpulan kisah Perjalanan Peminang Bidadari –
seri pertama – ini selesai. Walaupun disana sini masih banyak kekurangannya. Namun
dengan besarnya niat dan usaha semoga kekurangan itu dapat sedikit tertutupi.
Kita mengharap buku ini menjadi motivasi kita untuk berjihad fie sabilillah dan
mengejar syahadah demi tegaknya Dien Allah dimuka bumi ini.
Bagaikan butiran mutiara bila kita lihat perjalanan kisah ini, bagaikan sinaran
permata bila kita amati perjalanan ini. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka
dalam syahadah.
Akhir kata kami, kami meminta maaf bila ada kekuarangan dan kesalahan dalam
penyajian buku ini, dan kami mengharapkan saran dan masukan dari para pembaca. Atas
partisipasi dan dukungan pembaca kami ucapkan Jazakumullah khoirol jaza’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s